IDNNEWS.CO.ID, Batam – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi di Batam dinilai bukan sekadar dinamika pasar energi, melainkan sinyal serius bagi keberlanjutan daya saing industri daerah.
Akademisi sekaligus Direktur Eksekutif Batam Labor and Public Policy (BALAPI), Rikson Tampubolon, menilai lonjakan biaya energi berpotensi menekan sektor manufaktur, logistik, hingga daya beli masyarakat secara berantai.
Menurut Rikson saat dihubungi KE Group pada Selasa 21/4/2026) mengatakan bahwa, posisi Batam sebagai kawasan perdagangan bebas dan pusat manufaktur menjadikan stabilitas biaya logistik sebagai faktor kunci.
Ketika harga energi meningkat, sementara akses BBM bersubsidi untuk sektor logistik terbatas, tekanan terhadap biaya produksi menjadi sulit dihindari.
“Kebijakan energi dalam konteks Batam tidak lagi netral. Setiap perubahan harga BBM langsung menentukan posisi kompetitif Batam di tengah persaingan regional,” ujarnya.
Ketergantungan Batam terhadap mobilitas logistik dan pasokan dari luar daerah membuat ekonomi kota ini sangat sensitif terhadap fluktuasi harga energi. Batam disebut menyumbang lebih dari 60 persen terhadap perekonomian Kepulauan Riau, sekaligus menjadi pusat pergerakan barang dengan jumlah kendaraan yang telah melampaui satu juta unit.
Kondisi tersebut menjadikan biaya distribusi sebagai faktor penentu harga barang di tingkat konsumen. Kenaikan BBM, kata Rikson, akan merambat dari sektor industri hingga ke harga kebutuhan masyarakat.
“Efek domino akan terjadi. Biaya produksi naik, biaya distribusi ikut meningkat, dan pada akhirnya harga barang di pasar tidak punya pilihan selain menyesuaikan,” jelasnya.










