OPINI: MUHARRAM DAN BURUNG-BURUNG

OLEH ; Ilham Mendrofa

Saya mengenal Muharram sejak kecil.
Ia datang bersama suara pengeras masjid yang lebih nyaring dari hari-hari biasa, lomba anak-anak di lapangan desa, serta hidangan yang disiapkan ibu-ibu selepas pengajian malam. Dalam ingatan saya, Muharram selalu berwajah kampung: dekat, akrab, dan sederhana. Seperti seorang tetangga lama yang datang setahun sekali hanya untuk memastikan kami baik-baik saja.

Namun semakin bertambah usia, saya mulai curiga. Barangkali selama ini saya hanya mengenal nama Muharram, bukan pengembaranya.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA:  OPINI: Ketika Penguji UKW Mengangkangi KEJ yang Diajarkannya

Malam itu hilal baru saja lahir di langit. Tipis sekali. Seperti seseorang yang baru belajar menjadi cahaya. Saya memandangnya lama, lalu membayangkan Muharram duduk bersama saya di tepi Kalimalang, berdua dengan kesunyian.

Kabut tipis menggantung di atas air. Burung-burung air bergerak perlahan di antara rumpun gulma liar. Dari kejauhan, lampu-lampu Kota Bekasi berpendar seperti sisa mimpi yang belum sepenuhnya padam. Kalimalang membentang dari timur ke barat, melintasi bendungan, kampung, jalan raya, kawasan industri, lalu terus mengalir menuju pesisir Jakarta.

Muharram menyukai sungai. Sungai tidak pernah tergesa-gesa. Ia tidak sibuk menjelaskan dirinya. Ia hanya mengalir. Tetapi justru karena itu, sungai menyimpan lebih banyak ingatan daripada yang sanggup disimpan manusia.

BACA JUGA:  NEGARA BERDAGANG, Membaca PT Danantara Sumberdaya Indonesia di Antara Kedaulatan, Rente, dan Ilusi Monopoli Negara

Pada permukaan Kalimalang yang tenang, Muharram melihat masa lalu dan masa depan saling bertumpuk. Ia membayangkan Sungai Nil ketika para nabi berjalan di tepinya. Ia melihat Tigris ketika Baghdad menjadi pelita dunia. Ia melihat kapal-kapal Bugis membaca rasi bintang di laut malam. Ia melihat para pelaut Nias mengenali perubahan angin jauh sebelum badai lahir di cakrawala.

Lalu ia melihat semuanya berubah. Pada arus yang sama, ia menyaksikan kitab-kitab dilemparkan ke Sungai Tigris. Lembaran demi lembar hanyut mengikuti arus. Ia membayangkan anak-anak yang berdiri di tepian sungai, berusaha meraih halaman-halaman yang lewat di hadapan mereka. Tangan mereka gemetar. Air mencapai dada. Dari sekian banyak kitab yang tenggelam, mereka hanya mampu menyelamatkan satu lembar. *Hanya satu lembar*.

BACA JUGA:  OPINI: Sahabat Pena, Ketika Perangko Menjadi Jembatan Hati

Muharram tidak pernah melupakan wajah anak-anak itu. Bukan karena mereka berhasil menyelamatkan satu halaman. Melainkan karena kesedihan yang memancar dari mata mereka. Seolah seluruh dunia, seluruh ilmu, seluruh harapan manusia karam bersama selembar kertas yang basah.

Bertahun-tahun kemudian Muharram memahami sesuatu yang pahit. Perpustakaan tidak musnah ketika buku-buku dibakar. Pengetahuan lenyap ketika manusia berhenti merasa kehilangan. Mungkin karena itulah Muharram terus kembali setiap tahun. Bukan sekadar untuk mengganti angka dalam kalender, melainkan untuk mencari manusia-manusia yang masih mampu takjub kepada ilmu, kehidupan, dan semesta.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *