OPINI: Mengurai Sengkarut Aturan Free Float: Mengapa Standar MSCI Harus Jadi Alarm bagi Regulator?

Mohd Rizky, S.Kom., M.M. Alumnus Pascasarjana Magister Manajemen Konsentrasi Manajemen Risiko, Universitas Diponegoro.
Mohd Rizky, S.Kom., M.M. Alumnus Pascasarjana Magister Manajemen Konsentrasi Manajemen Risiko, Universitas Diponegoro.

Benteng Risiko vs Tuntutan Pasar

Namun, mendengarkan pasar secara membabi buta tanpa benteng teknis yang kuat juga sangat berbahaya. Persyaratan teknis adalah alat untuk manajemen risiko, stabilitas makro, dan kedaulatan ekonomi.

Jika regulasi terlalu longgar demi memuaskan kebutuhan pasar yang agresif, pasar keuangan rentan terhadap pelarian modal mendadak (capital flight), spekulasi berlebih, hingga pencucian uang.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA:  OPINI: Kekuasaan Simbolik dan Erosi Kewenangan Pemimpin Daerah dalam Sistem Pemerintahan Modern

Intinya, secara strategis regulator harus tahu apa yang sebenarnya dibutuhkan investor global agar mau menanamkan modal jangka panjang. Setelah itu, barulah dapat dibuat persyaratan teknis yang aman bagi ekonomi domestik.

Masalahnya, di Indonesia adalah kecenderungan silo-mentality atau pendekatan birokratis yang legal-centric. Aturan teknis dibuat terlalu kaku di awal demi kepatuhan administratif, sehingga mengorbankan fleksibilitas dan daya saing pasar (market accessibility).

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *