Oleh : Ady Indra Pawennari
Ketua Umum Komunitas Jurnalis Kepri
Niat baik tak selalu berbuah manis. Kalimat itulah yang kini berkecamuk di dada kami, para jurnalis senior yang menggawangi lahirnya Komunitas Jurnalis Kepri (KJK). Wadah yang kami dirikan dengan peluh dan ketulusan untuk merangkul sesama profesi, justru dipandang dengan tatapan penuh curiga. Kehadiran KJK kini menjadi buah bibir, bukan karena kami melakukan kejahatan, melainkan karena aktivitas sosial kami dianggap terlalu masif hingga mengguncang kenyamanan mereka yang duduk di kursi kekuasaan.
Sejumlah jurnalis senior di Kepulauan Riau hanya bisa mengelus dada, menyaksikan bagaimana nalar organisasi telah mati di tingkat pusat. Mereka sangat menyayangkan sikap otoriter Ketua Umum PWI, Akhmad Munir, yang mempertontonkan keberpihakan yang ironis.
Sungguh menyakitkan ketika pucuk pimpinan organisasi tertinggi ini justru lebih memilih merangkul dan membela pengurus PWI Kepri yang bahkan bukan anggota resmi PWI. Sebaliknya, palu kekuasaan justru dihantamkan kepada para pengurus KJK—mereka yang darah dan dagingnya adalah anggota asli, yang lahir dan tumbuh besar dari rahim PWI itu sendiri.
Sejak awal, KJK bergerak dari hati. Kami turun ke lapangan menyasar para kuli tinta yang membutuhkan uluran tangan melalui aksi donor darah dan pembagian sembako di momen-momen tertentu, seperti jelang perayaan Idul Fitri dan Natal. Kami juga menggelar Uji Kompetensi Wartawan (UKW)—sebuah program krusial untuk menaikkan kelas dan kualitas SDM jurnalis di Kepulauan Riau yang selama ini selalu dinanti-nanti.
Ironisnya, ketika KJK mampu mendominasi gerakan yang biasanya hanya dimotori oleh organisasi pers pusat di Jakarta, langkah nyata ini justru dianggap sebagai dosa besar. Ketulusan kami menyentuh akar rumput malah dibaca dengan kacamata politik yang buram sebagai bentuk pembangkangan terhadap AD/ART PWI.
Tanpa tedeng aling-aling, Ketua Umum PWI Pusat, Akhmad Munir, menjatuhkan vonisnya yang pahit. Bagi Munir, keringat kami merangkul peserta UKW adalah sebuah pembangkangan yang nyata.
