Kekecewaan ini sebenarnya telah menumpuk lama. Pasca Kongres PWI di Cikarang yang menetapkan Akhmad Munir sebagai Ketua Umum masa bakti 2025–2030, kami datang dengan itikad baik melayangkan laporan mengenai carut-marut PWI Kepri pasca-dualisme.
Kami membawa data dan kecurigaan mendalam tentang adanya penyusup di tubuh kepengurusan. Alih-alih menginvestigasi secara bijak sebagai seorang “bapak” bagi anggotanya, Munir justru langsung mengukuhkan kepengurusan PWI Kepri hasil KLB sisa jabatan 2023–2028.
Merasa saluran aspirasi buntu dan rumah kami sendiri tak lagi ramah, bergeraklah nurani kami. Atas desakan dan harapan dari rekan-rekan jurnalis serta organisasi pers lain, KJK akhirnya resmi dilahirkan pada 11 November 2025. Sebuah nakhoda disusun bersama: saya dipercaya sebagai Ketua Umum, didampingi Andi Gino dan Sigit Rachmat di Dewan Pengawas, Amril Agin dan Qori Ul Fitra sebagai Sekretaris dan Wakil Sekretaris Jenderal, Richard Nainggolan dan Novianto di kursi Wakil Ketua Umum, serta Henky Mohari dan Iman Suryanto yang mengawal bendahara.
Kami bersumpah demi profesi, wadah ini lahir murni sebagai ruang komunikasi yang efektif untuk membedah isu-isu krusial, khususnya demi kemajuan Kepulauan Riau. Tak sedetik pun terlintas di hati kami untuk menciptakan tandingan atau merebut kekuasaan siapa pun. Kami adalah anak-anak kandung PWI yang hanya ingin berbakti ketika rumah utama kami sedang disfungsional.
Namun, sejak hari pertama hingga detik ini, KJK tidak bisa berhenti bergerak demi kemanusiaan. Kami terus merajut kegiatan sosial yang bersentuhan langsung dengan denyut nadi kehidupan wartawan dan masyarakat. Dan dari ketulusan tanpa henti itulah, benih-benih tuduhan pembangkangan sengaja disemaikan untuk menyudutkan kami. Mereka lupa, atau mungkin menutup mata, bahwa seluruh peluh dan air mata kegiatan KJK ini tidak pernah memeras sepeser pun dana kas PWI. Semuanya lahir dari urunan tulus anggota dan para donatur yang bergerak atas dasar satu rasa: persaudaraan sesama jurnalis.
Jika kepedulian pada sesama kini dicap sebagai pembangkangan oleh sikap otoriter seorang pemimpin, lantas di mana lagi martabat dan hati nurani organisasi ini diletakkan? Kami tidak akan mundur, sebab merawat jurnalis daerah adalah panggilan jiwa, bukan komoditas politik lima tahunan. (**)
