OPINI: Hari Pertama Masuk Kerja vs  Masa Pensiun. ‘Sebuah Catatan Paradoks’

AVP External Communication Telkom Sabri Rasyid
AVP External Communication Telkom Sabri Rasyid

Ada ironi yang lucu sekaligus menyentuh ketika saya membandingkan dua momen paling penting dalam karir saya: hari pertama masuk Telkom pada bulan Juni 1993 di Padang Sumbar, dan hari pertama pensiun 1 januari 2026 di Sentul kemarin. Dua titik ekstrem dalam satu perjalanan panjang 32 tahun 6 bulan. Dan di antara keduanya, ada paradoks yang membuat saya tersenyum—sekaligus merenung.

HARI PERTAMA MASUK KERJA.

Jam alarm berbunyi pukul 04.30, saya sudah bangun duluan. Terlalu excited untuk tidur. Sudah cek seragam putih-biru lengkap aksesoris pin korpri dan label nama akrilik. Sepatu juga sudah siap terpoles mengkilap. Tinggal bebersih badan dan ready go to the office.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA:  Telkom dan Conversant Hadirkan Solusi Distribusi Konten Digital Cepat dan Aman

Setiba di kantor Witel Padang, langsung nervous. Setiap orang yang lewat saya hormati dengan senyum— termasuk satpam, OB, teknisi, juru parkir semua yang ada di kantor saya sapa dengan sangat sopan. Maklum anak baru.

Semua orang terlihat lebih senior, lebih pinter, lebih berpengalaman. Saya merasa kecil, meski batin ini termotivasi: “Suatu hari, saya harus melampaui mereka.”

Kerjaan perdana, disuruh kirim dokumen via mesin facsimile (perangkat untuk mengirim copy dokumen) ke kantor pusat. Hingga seminggu, kerjaan hanya menunggu perintah atasan sembari melirik kerjaan para karyawan senior lainnya.

Kantor Padang, rupanya hanya transit menunggu SK Penempatan. Karena penugasan sesungguhnya dimulai di Batam. Dst.

HARI PERTAMA PENSIUN.

Tidak ada alarm. Bangun sendiri jam 05.00, subuh lanjut mandi. Melirik lemari, seragam biru navy Telkom sudah terlipat rapih di sana. Perasaan aneh mulai muncul: freedom mixed with emptiness.

BACA JUGA:  Penuhi Kebutuhan Masyarakat dan Pelaku Usaha Akan Internet, Wifi Managed Service Voucher Jawabannya

Hanya kaosan, memaksa diri untuk cuci mobil biar ada aktivitas pagi. Rupanya semangat tanpa persiapan juga bisa fatal. Asyik nyuci mobil, otot belakang malah ketarik. Nyeri minta ampun. Istilah dokter, kena Low Back Pain.

Saat berobat ke Yakes Bogor, dokter cuman tersenyum, “inilah penyakit umum pensiunan baru pak”. Sebentar lagi nyeri lutut, pusing hipertensi dll. Wedew.

Aktivitas lain, sesekali Cek HP. Tidak ada WA urgent. Tidak ada WA dari tim. Tidak ada yang butuh approval saya. Mulai merasa aneh.

PARADOKS YANG SAYA TEMUI.

Sabri muda di hari pertama masuk itu tidak lebih bahagia dari saya sekarang. Dia cuma punya mimpi masa depan indah, tidak membayangkan sesuatu yang naik turun.

Dia tidak tahu akan ada perjalanan karir yang menyakitkan. Tidak tahu akan ada sahabat yang pergi. Tidak tahu akan ada gosip yang menguras energi. Tidak tahu akan ada malam-malam stres karena target yang berat.

BACA JUGA:  TelkomGroup Salurkan 946 Hewan Kurban untuk Masyarakat di Momen Hari Raya Idul Adha

Mungkin karena tidak tahu, dia bisa bermimpi tanpa batas. Dia bisa semangat tanpa ragu. Dia bisa percaya bahwa segalanya mungkin. Sedangkan saya sekarang, punya sesuatu yang dia tidak miliki: kebijaksanaan dari ribuan hari yang sudah dilalui alias jam terbang.

Saya tahu bahwa karir bukan linear. Saya tahu bahwa sukses bukan hanya soal naik jabatan atau naik gaji. Saya tahu bahwa kebahagiaan tidak ditentukan oleh seberapa sibuk kita. Saya tahu bahwa masa pensiun bukan akhir, tapi transisi.

Jadi, ini bukan tentang memilih mana yang lebih baik: hari pertama masuk kerja atau hari pertama pensiun. Ini tentang menghargai keduanya.

“Hari pertama masuk kerja mengajarkan saya untuk berani bermimpi”

“Hari pertama pensiun mengajarkan saya untuk bijak bermimpi”

Tabik,
Sabri Rasyid
IG : @sabri.rasyid

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *