OPINI : Ekonomi 5 Persen: Terlalu Nyaman dan Betah

Lukita Dinarsyah Tuwo
Lukita Dinarsyah Tuwo

Kedua, dorong investasi swasta tumbuh lebih cepat daripada ekonomi. Pertumbuhan investasi riil sekitar 8–10 persen selama beberapa tahun akan jauh lebih membantu daripada terus mengandalkan konsumsi tumbuh sedikit di atas 5 persen.

Ketiga, jadikan produktivitas sebagai indikator utama pembangunan. Kita terlalu rajin menghitung jumlah proyek, anggaran terserap dan investasi masuk. Mulailah lebih serius menghitung output per pekerja, output per unit modal dan peningkatan produktivitas sektoral.

Keempat, lakukan transformasi struktural. Pekerja harus bergerak dari aktivitas bernilai tambah rendah menuju manufaktur, jasa modern, ekonomi digital, agroindustri dan kegiatan berbasis pengetahuan yang produktivitasnya lebih tinggi. World Bank mencatat penciptaan pekerjaan Indonesia masih terlalu terkonsentrasi pada kegiatan bernilai tambah rendah.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA:  Batam Pukau Investor Italia, 'Lirik Investasi Ramah Lingkungan'

Kelima, perbaiki kualitas manusia. Pendidikan bukan hanya soal berapa tahun anak berada di sekolah, tetapi apa yang benar-benar dapat mereka kerjakan setelah keluar dari sekolah. Industri yang ingin menggunakan teknologi abad ke-21 tidak dapat tumbuh dengan keterampilan abad ke-20.

Keenam, kurangi ekonomi berbiaya tinggi. Logistik, regulasi, kepastian hukum, energi, lahan dan koordinasi pemerintah harus dipandang sebagai bagian dari fungsi produksi nasional.

Ketujuh, perkuat persaingan dan keterbukaan. Perusahaan harus memiliki insentif untuk berinovasi, bukan sekadar nyaman karena pasar terlindungi. Perdagangan dan FDI juga harus dipakai sebagai saluran transfer teknologi dan pengetahuan.

BACA JUGA:  Mengejar Pertumbuhan 6 Persen: Strateginya Ada, Tinggal Memastikan Mesinnya Bergerak (3-Habis)

Kedelapan, satukan kebijakan makro dan transformasi struktural. Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, Bappenas dan kementerian sektoral tidak boleh bekerja seolah-olah demand dan supply hidup di dua negara yang berbeda. Kebijakan fiskal, moneter, investasi, industri, pendidikan, teknologi dan infrastruktur harus menuju satu outcome: menaikkan potential growth Indonesia.

Dari Lima Menuju Tujuh

Pertumbuhan 5 persen telah memberi Indonesia stabilitas dan kemajuan yang tidak kecil.
Tetapi setiap tingkat pendapatan memiliki tuntutannya sendiri.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *