OPINI : Anak-Anak Muda Statistik

Di meja sarapan itu saya mendengar angka: 0-3-6. Awalnya saya kira itu kode teknis biasa. Rupanya angka itu adalah irama statistik nasional. Tahun berakhiran 0 untuk Sensus Penduduk. Tahun berakhiran 3 untuk Sensus Pertanian. Tahun berakhiran 6 untuk Sensus Ekonomi. Nol, tiga, enam. Seperti ketukan metronom yang mengingatkan negara agar tidak lupa memeriksa dirinya sendiri, agar negara tidak berjalan dengan intuisi. Dan intuisi, betapapun berguna, sering kali membawa kekuasaan pada klaim dan prasangka.

Yang pernah kenal Prof. Andi Hakim Nasution pasti tahu, data tentu saja bukan sekadar angka, data adalah jejak kenyataan yang ditangkap oleh pikiran. Data bukan kenyataan itu sendiri, tetapi tanda yang membantu kita mendekatinya. Dalam matematika, ia bisa berubah menjadi matriks, grafik, fungsi, korelasi, klaster, proyeksi, dan model. Dari sebaris angka tentang omzet, tenaga kerja, lokasi usaha, atau aktivitas digital, negara dapat membaca sesuatu yang lebih besar: wilayah mana yang tumbuh, sektor mana yang rapuh, desa mana yang butuh akses internet, kecamatan mana yang memerlukan pasar, daerah mana yang membutuhkan jalan produksi, dan kelompok usaha mana yang layak disambungkan dengan perbankan.

BACA JUGA:  Ombudsman Kepri 'Plototi' Netralitas ASN di Pilkada 2024

Dari situ sensus berbeda dari survei, apalagi polling politik. Survei membaca sebagian untuk memperkirakan keseluruhan. Polling menangkap opini sesaat. Tetapi sensus datang untuk menyisir seluruh populasi. Enumeratornya mengetuk pintu, tidak hanya mengambil sampel; mereka membaca peta secara utuh. Dalam negara modern, sensus menjadi instrumen pelayanan. Pertanyaan dan percakapan tentang layanan dasar untuk warga. Berapa sekolah harus dibangun. Berapa rumah sakit harus disiapkan. Berapa pelatihan kerja harus dibuka. Berapa UMKM harus diberi akses modal, teknologi, pasar, dan perlindungan.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA:  Wagub Kepri Nyanyang Harris Pratamura Sinkronkan Program Pusat–Daerah, Dorong Infrastruktur dan Ekonomi Maritim

Sensus Ekonomi 2026 berada dalam garis besar itu. Ia memotret kegiatan ekonomi non-pertanian: dari usaha mikro sampai perusahaan besar, dari toko fisik sampai pelaku ekonomi digital, dari usaha formal sampai informal. Anak-anak muda itu menanyakan identitas usaha, lokasi, skala, bentuk badan usaha, tenaga kerja, omzet, modal, perkembangan usaha, aktivitas daring, ekonomi kreatif, serta kemungkinan praktik ekonomi hijau dan biru.

Mungkin bagi sebagian pelaku usaha, pertanyaan itu terasa terlalu jauh masuk ke ruang pribadi. Tetapi tanpa keberanian membaca detail, negara akan selalu terlambat memahami perubahan. Ekonomi hari ini tidak lagi hanya bergerak di pasar tradisional dan kawasan industri. Ia juga bergerak di platform digital, ruang percakapan, gudang kecil, jasa pengiriman, pembayaran nontunai, desain grafis, video pendek, afiliasi, marketplace, dan pekerjaan-pekerjaan baru yang dahulu tidak punya nama.

BACA JUGA:  Driver Online Jadi 'Motor Baru', Praktisi Pariwisata Surya Wijaya: Dorong Ekonomi Lokal dan Pengalaman Wisata Berkualitas

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *