Namun pengalaman berbagai negara menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi saja tidak cukup. Pertumbuhan perlu diarahkan. Negara dapat tumbuh tinggi tetapi tetap terjebak dalam ketimpangan, rendahnya mobilitas sosial, dan kualitas manusia yang tidak berkembang.
Amartya Sen, dalam Development as Freedom (1999), memperluas pemahaman kita. Baginya, pembangunan adalah proses memperbesar kemampuan manusia untuk menjalani kehidupan yang mereka nilai bermakna. Manusia adalah tujuan, bukan alat.
Perspektif ini sangat relevan bagi Indonesia hari ini. Ekonomi kita tumbuh sekitar 5 persen pada 2024—sebuah pencapaian yang menunjukkan ketahanan di tengah perlambatan global. Namun perjalanan menuju negara maju menuntut lebih dari sekadar pertumbuhan. Kita membutuhkan transformasi struktural: perpindahan dari ekonomi berbasis komoditas menuju ekonomi berbasis produktivitas, teknologi, dan inovasi.
Negara-negara seperti Korea Selatan, Taiwan, dan China menunjukkan jalannya. Mereka keluar dari jebakan pendapatan menengah melalui industrialisasi, investasi sumber daya manusia, riset yang berkelanjutan, dan kebijakan industri yang konsisten. Indonesia kini berada di fase penting yang sama.
Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto melanjutkan agenda pembangunan nasional dengan penekanan baru: kemandirian ekonomi, ketahanan pangan, hilirisasi industri, dan pembangunan manusia. Empat pilar yang dirangkum dalam Asta Cita.
