Selain itu, volatilitas imbal hasil obligasi global juga meningkat. The Federal Reserve memang telah menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin, namun langkah tersebut disertai sinyal hawkish yang menunjukkan adanya kehati-hatian terhadap tekanan fiskal dan inflasi ke depan. Pada saat yang sama, kenaikan yield jangka panjang di Tiongkok menambah tekanan terhadap pasar keuangan global dan menjadi indikator bahwa ekonomi negara tersebut masih menghadapi tantangan struktural.
Di tengah dinamika tersebut, indikator permintaan global menunjukkan performa di bawah ekspektasi. Mahendra menyebut konsumsi rumah tangga di banyak negara belum sepenuhnya pulih. Bahkan di sebagian negara, permintaan domestik yang lesu menjadi hambatan utama bagi percepatan pemulihan.
“Permintaan global yang lemah dan belum pulihnya konsumsi rumah tangga menjadi faktor yang menahan laju perbaikan perekonomian dunia,” jelasnya.
Kondisi ini, menurut Mahendra, membuat situasi global semakin rentan terhadap guncangan. Oleh karena itu, negara dengan basis permintaan domestik yang kuat memiliki peluang lebih besar untuk mempertahankan momentum pemulihan.
Indonesia Tetap Tangguh di Tengah Tekanan Eksternal
Dalam konteks ini, Indonesia dinilai tampil relatif solid. Mahendra menyoroti bahwa ekonomi Indonesia berhasil tumbuh 5,04% (yoy) pada triwulan III 2025. Kinerja tersebut ditopang oleh aktivitas manufaktur yang terus berada di zona ekspansi, sebagaimana tercermin dari tren PMI nasional.










