Pengukuhan FJP Kepri turut dihadiri sejumlah paguyuban besar di Batam, antara lain: Paguyuban Banten, Melayu Barelang, Betawi, dan Palembang. Dukungan lintas komunitas ini menjadi simbol kuat bahwa pariwisata berbasis budaya tidak bisa dilepaskan dari peran sosial masyarakat Batam yang heterogen.
Sinergitas ini diharapkan dapat menghadirkan ruang ekspresi budaya, festival komunitas, hingga daya tarik baru yang mampu menarik perhatian wisatawan mancanegara.
Founder ASPABRI dan Praktisi Pariwisata Kepri, Surya Wijaya, yang ditunjuk sebagai Direktur Eksekutif FJP Kepri, menyebut bahwa keberadaan organisasi ini sudah menjadi kebutuhan mendesak.
“Batam mengklaim sebagai kota wisata. Karena itu, pemberitaan mengenai pariwisata harus terukur, berbasis data, dan selaras dengan visi besar Kepri sebagai beranda pariwisata nasional di ASEAN,” ujar Surya menegaskan.
Menurutnya, Kepri berada pada dua pasar utama wisatawan asing terbesar di ASEAN: Singapura dan Johor. Karena itu, narasi media harus mampu memperkuat positioning Kepri sebagai destinasi unggulan perbatasan.
Sejumlah program jangka dekat FJP Kepri telah disusun, antara lain:
- Penyusunan Buku Saku Pariwisata Kepri, sebagai pedoman liputan dan referensi informasi resmi bagi seluruh anggota FJP.
- Pelatihan Bahasa Asing untuk Jurnalis, Guna meningkatkan kualitas komunikasi dan pelayanan informasi terhadap wisatawan mancanegara.
