Membaca Why Nations Fail dan pekerjaan rumah Indonesia
OPINi oleh : Lukita Dinarsyah Tuwo
Terbitnya buku terbaru Daron Acemoglu, What Happened to Liberal Democracy? Remaking a Politics of Shared Prosperity, mendorong saya untuk kembali membaca pemikirannya—di luar karya yang bersifat buku teks, seperti Introduction to Modern Economic Growth dan Principles of Economics.
Pemikiran tersebut akan saya bahas dalam lima tulisan populer: empat tulisan mengenai Why Nations Fail, The Narrow Corridor, Power and Progress, dan What Happened to Liberal Democracy?, serta satu tulisan penutup yang mengintegrasikan semuanya menjadi agenda bagi Indonesia.
Seri ini dimulai dengan Why Nations Fail, karya Acemoglu bersama James A. Robinson. Buku ini bukan satu-satunya karya yang secara langsung membuat mereka meraih Nobel Ekonomi 2024, tetapi merupakan penjelasan populer dari rangkaian penelitian mengenai bagaimana institusi terbentuk dan menentukan kemakmuran suatu negara—pokok penelitian yang menjadi dasar pemberian Nobel tersebut.
Pertanyaannya sangat relevan bagi Indonesia: mengapa negeri yang kaya sumber daya, manusia, dan rencana pembangunan masih harus bekerja begitu keras untuk benar-benar menjadi negara kaya?”
Indonesia adalah negeri kaya. Kalimat ini telah kita dengar sejak sekolah dasar.
Tanah kita subur. Laut kita luas. Isi perut bumi kita beragam. Penduduk kita banyak. Pasar kita besar. Letak kita strategis. Bahkan matahari bersinar hampir sepanjang tahun tanpa perlu mengajukan izin prinsip.
Namun ekonomi Indonesia selama lebih dari dua dekade masih akrab dengan pertumbuhan sekitar 5 persen. Angka ini tidak buruk. Stabil, tahan banting, dan cukup membuat kita tidak panik. Tetapi ia juga seperti tamu sopan yang datang setiap tahun, duduk di kursi yang sama, minum teh yang sama, lalu pulang tanpa membawa perubahan besar.











