“Bertumpah darah satu, tanah air Indonesia, berbangsa satu, bangsa Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Padahal waktu itu Indonesia belum merdeka,” ujarnya.
Jejak Raja Ali Haji di Pulau Penyengat
Tito kemudian mengajak masyarakat melihat lebih jauh mengenai asal-usul bahasa Melayu yang menjadi salah satu akar perkembangan bahasa Indonesia.
Menurutnya, terdapat sejumlah teori mengenai asal-usul bahasa Melayu. Namun, Pulau Penyengat memiliki jejak sejarah yang kuat karena berkaitan dengan sosok Raja Ali Haji dan karya-karyanya.
“Pertanyaan kritisnya, dari mana bahasa Melayu itu berasal? Jejaknya banyak dan teorinya juga banyak. Tetapi yang paling jelas dan ada buktinya adalah Raja Ali Haji, dengan Gurindam Dua Belas, yang pusatnya berada di Pulau Penyengat ini,” tutur Tito.
Raja Ali Haji dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam perkembangan bahasa dan sastra Melayu. Karya-karyanya menjadi bagian dari warisan intelektual yang melekat kuat dengan sejarah Pulau Penyengat.
Karena itu, Tito mengapresiasi Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau yang membangun Monumen dan Museum Tugu Bahasa di kawasan tersebut.
Ia menilai keberadaan museum dan monumen nantinya tidak hanya menjadi penanda sejarah, tetapi juga dapat menjadi ruang pembelajaran bagi masyarakat, terutama generasi muda.
“Ini bisa menjadi bukti fisik dan bahan pelajaran bagi rakyat Indonesia, khususnya generasi muda, sekaligus menjadi penghargaan kepada Raja Ali Haji,” katanya.











