Mundur dari PWI, Ady Indra Pawennari: Selamat Berpisah, Sampai Jumpa di Ujung Jalan

Ia memohon doa, restu, hingga dukungan logistik untuk maju dalam Konferensi Provinsi (Konferprov) PWI Kepri, menantang Saibansah yang saat itu menjadi rivalnya. Di rumah itu, di bawah atap yang menyaksikan segala janji, saya membuka tangan lebar-lebar. Saya tuntun jalannya, saya topang langkahnya dengan seluruh ketulusan yang saya punya.

Namun, panggung kekuasaan memang panggung sandiwara yang kejam. Setelah kakinya sukses menjejakkan diri pada puncak kekuasaan yang begitu dia agungkan, ia seketika amnesia pada tangan yang dulu menuntunnya keluar dari kegelapan.

Alih-alih menjaga amanah, ia memilih berkhianat. Ia memutar haluan membuat Konferensi Luar Biasa (KLB), bersekutu dan bergabung dalam pelukan Saibansah—sosok yang dulu dilawannya—lalu membuang saya dari kepengurusan seolah saya hanyalah sepah tak berharga.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA:  OPINI: Memahami Data Pengangguran di Provinis Kepri

Pedih rasanya mengingat bagaimana waktu, tenaga, dan pikiran yang saya curahkan justru berbuah tikaman. Seseorang yang dulunya berdiri di samping saya, berjuang bersama dalam badai, kini menggunakan singgasana itu untuk menghunuskan belati pengkhianatan dari belakang. Kekuasaan telah mengubah sahabat menjadi duri, dan mengubah sekutu menjadi musuh dalam selimut.

Meski demikian, tidak ada satu rasi pun penyesalan di hati saya. Tidak akan pernah. Saya sangat meyakini bahwa setiap goresan takdir yang Allah SWT tetapkan adalah skenario terbaik untuk membersihkan hidup saya dari jiwa-jiwa yang tidak tulus.

Kekuasaan di dunia ini hanyalah fatamorgana yang semu dan berputar. Hukum karma kehidupan adalah janji langit yang pasti. Apa yang kita semai, itulah yang akan kita tuai kelak. Tangan yang hari ini digunakan untuk menjegal dan melupakan kebaikan orang lain, suatu saat akan merasakan dinginnya keadilan semesta.

BACA JUGA:  Telkomsel Halo Optima Resmi Meluncur, Manjakan Pengguna dengan Kuota hingga 300 GB

Hari ini, dengan kepala tegak, hati yang lapang, dan jiwa yang merdeka, saya melangkah keluar.
Selamat berpisah, PWI. Terima kasih atas semua jabat tangan yang hangat dan tikaman-tikaman tersembunyi yang mendewasakan.

Sampai jumpa di ujung jalan—sebuah tempat peristirahatan terakhir di mana semua topeng kemunafikan akan terlepas, tempat tujuan yang sebenar-benarnya, dan tempat di mana kebenaran abadi akan menemukan jangkarnya yang sejati.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *