Membangun Jurnalisme Berdaya dan Berkualitas di Era Digital

Menurutnya, langkah pertama dalam membangun brand diri dimulai dari satu hal yang sering dilupakan: introspeksi. Siapa diri kita sebagai jurnalis? Apa nilai yang kita pegang? Apa ciri khas tulisan atau liputan kita? Di bidang apa kita paling memahami konteks dan pergerakan isu?

“Jurnalis itu setiap hari bertemu sumber, membaca fenomena, dan memproses informasi. Modalnya sudah ada. Tantangannya adalah mengemasnya kembali menjadi konten yang relevan,” ujarnya.

Afut menekankan bahwa profesionalisme jurnalis tidak lagi cukup hanya dengan cepat menulis atau akurat memverifikasi. Dunia kini menuntut lebih: konsistensi kualitas, pemahaman mendalam terhadap isu tertentu, dan kemampuan untuk mempresentasikan karya di berbagai platform.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA:  Transaksi QRIS di Kepri Capai Rp4,4 Triliun di 2024

Ia mengingatkan bahwa setiap jurnalis tidak harus hadir di semua media sosial. Justru, strategi yang efektif adalah memilih platform yang paling sesuai dengan audiens yang ingin dijangkau. Di era digital, kehadiran online bukan hanya tempat berbagi karya, tetapi juga membangun kredibilitas.

“Kita harus tahu di mana suara kita paling terdengar,” tuturnya.

Perkembangan teknologi, termasuk penetrasi kecerdasan buatan, menjadi sorotan dalam diskusi. Alih-alih melihatnya sebagai ancaman, Afut mengajak jurnalis mengelola teknologi sebagai alat bantu—bukan pengganti. Teknologi dapat mendukung proses riset dan distribusi, tetapi jurnalis tetap menjadi penentu kualitas narasi, empati, dan konteks.

BACA JUGA:  Keluhan Warga Soal Sampah Menggunung, Ombudsman Minta Pemko Batam Bergerak Cepat

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *