KTT BRICS 2026, Prabowo Soroti Indonesia Rawan Bencana tapi Kaya SDA

IDNNEWS.CO.ID, NEW DELHI — Presiden Prabowo Subianto turut menghadiri Sesi Terbuka Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-18 BRICS, Minggu (13/9/2026). Dalam pernyataannya di forum tersebut, Prabowo menyoroti kondisi Indonesia yang rawan bencana alam, tetapi memiliki kekayaan sumber daya alam (SDA) yang melimpah.

Pernyataan tersebut disampaikan Prabowo pada pertemuan hari kedua BRICS yang mempertemukan para pemimpin negara anggota dan negara mitra.

Dalam kesempatan itu, Prabowo menyoroti tema Keketuaan BRICS 2026 oleh India, yakni “Building Resilience, Innovation, Cooperation and Sustainability”.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA:  Pendapatan Indosat Tembus Rp30,7 Triliun, Laba Normalisasi Melonjak 49,2 Persen Berkat AI dan Layanan Digital

Menurut Prabowo, misi membangun ketahanan, inovasi, kerja sama dan keberlanjutan harus bermuara pada satu tujuan utama, yaitu membangun perekonomian yang lebih kuat, berkeadilan, serta mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Salah satu upaya yang perlu dilakukan, lanjut Prabowo, adalah mengubah kerentanan menjadi peluang. Ia mencontohkan kondisi Indonesia yang rawan bencana alam, tetapi di sisi lain memiliki kekayaan sumber daya alam yang besar.

“Indonesia sangat memahami kenyataan ini. Kami adalah negara kepulauan yang terletak di kawasan ‘cincin api’ yang paling aktif. Sehari-hari, kami hidup berdampingan dengan kenaikan permukaan laut, cuaca ekstrem, dan gunung berapi aktif. Namun, daratan dan lautan kami juga menyimpan berbagai elemen penting bagi pembangunan masa depan,” terang Prabowo di Gedung Bharat Mandapam, New Delhi, India, dikutip dari YouTube Sekretariat Presiden, Minggu (13/9/2026).

BACA JUGA:  Atasi Persoalan Air, BP Batam dan PT ABH Tingkatkan Kapasitas Suplai Hingga 850 Liter Per Detik

Sejumlah kekayaan SDA yang disampaikan Prabowo antara lain mineral kritis, logam tanah jarang, sumber daya terbarukan untuk teknologi bersih dan teknologi tinggi, serta hutan yang menjadi paru-paru dunia.

Prabowo menilai kondisi serupa juga dimiliki negara-negara BRICS. Apalagi, enam negara anggota BRICS merupakan bagian dari 10 negara dengan populasi terbesar di dunia. Selain itu, BRICS turut berkontribusi terhadap sekitar 40% perekonomian dunia.

“Kita memiliki segala hal yang menjadi fondasi bagi abad hijau. Oleh karena itu, saat bencana melanda, kita harus memandangnya lebih dari sekadar bencana semata. Kita perlu melihat adanya keterkaitan erat antara ketangguhan menghadapi perubahan iklim dan pembangunan nasional,” tuturnya.

BACA JUGA:  Berkat Persiapan Matang, PLN Batam Berhasil Jaga Pasokan Listrik di Momen Pilkada

Mineral Kritis Masuk Deklarasi New Delhi

Mineral kritis menjadi salah satu poin dalam Deklarasi New Delhi yang telah disepakati negara-negara anggota BRICS, termasuk Indonesia, pada hari pertama KTT, Sabtu (12/9/2026).

Negara-negara anggota mengakui perlunya rantai pasok mineral kritis yang dapat menjamin pembagian keuntungan, penciptaan nilai tambah, serta diversifikasi ekonomi bagi negara-negara yang kaya akan sumber daya alam.

Deklarasi tersebut juga menekankan pentingnya menjaga kedaulatan negara atas sumber daya mineral yang dimiliki.

“Dan pada waktu yang sama juga sepenuhnya menjaga kedaulatan hak negara-negara tersebut terhadap sumber daya mineral mereka, sekaligus hak mereka untuk mengadopsi, mempertahankan, serta menerapkan langkah yang diperlukan untuk mengejar tujuan kebijakan publik yang sah,” lanjut bunyi deklarasi.

SUMBER: BISNIS INDONESIA

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *