Hotel, restoran, pusat perbelanjaan, transportasi, jasa hiburan hingga usaha kuliner lokal ikut merasakan peningkatan aktivitas ekonomi.
“Pelaku UMKM dan sektor pariwisata saat ini cukup menikmati kondisi tersebut. Wisatawan dari negara tetangga semakin banyak datang ke Batam sehingga menciptakan efek berganda atau multiplier effect yang sangat luas bagi perekonomian daerah,” ujarnya.
Menurut Rafky, hampir seluruh sektor yang berkaitan dengan aktivitas wisata mengalami pertumbuhan yang signifikan. Kondisi ini menjadi salah satu faktor yang menjaga momentum pertumbuhan ekonomi Batam tetap positif di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Meski kurs rupiah tengah mengalami tekanan, Rafky mengimbau masyarakat agar tidak terlalu khawatir. Ia menilai fundamental ekonomi Indonesia saat ini jauh lebih kuat dibandingkan saat menghadapi krisis ekonomi pada tahun 1998.
Berbagai indikator makro ekonomi nasional, seperti pertumbuhan ekonomi, tingkat perbankan, cadangan devisa, serta stabilitas sistem keuangan masih menunjukkan kondisi yang relatif baik.
“Kita tidak perlu terlalu cemas. Kondisi saat ini masih sangat jauh dari situasi krisis tahun 1998. Pondasi ekonomi Indonesia jauh lebih kuat dan indikator makro ekonomi masih menunjukkan tren yang positif,” katanya.
Ia optimistis pemerintah bersama Bank Indonesia memiliki instrumen yang cukup untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mengendalikan volatilitas pasar keuangan yang terjadi saat ini.
Karena itu, masyarakat dan pelaku usaha diminta tetap menjalankan aktivitas ekonomi secara normal tanpa harus terbawa sentimen negatif yang berlebihan.
Di sisi lain, Rafky menekankan bahwa langkah strategis yang perlu dilakukan pemerintah saat ini adalah memulihkan kepercayaan investor asing terhadap pasar modal Indonesia.
