Di Dang Anom, keindahan alam yang seharusnya menjadi daya tarik utama justru tertutup oleh rimba tiang sisa-sisa promosi.
Ironisnya, kondisi ini terjadi saat pemerintah dan pelaku pariwisata di Batam sedang gencar menarik wisatawan baru, memperbaiki akses destinasi, hingga mengadakan berbagai event bertema wisata dan budaya. Namun, wajah destinasi wisata sendiri belum dirapikan secara utuh.
“Kalau wisatawan datang untuk menikmati pemandangan, tapi yang mereka lihat justru hutan tiang baliho, itu kan kontraproduktif,” kata Rizal, pegiat komunitas fotografi lokal.
Menurut Rizal, Dang Anom seharusnya menjadi kawasan yang bersih secara visual, karena sebagian besar pengunjung datang untuk menikmati lanskap dan berfoto. Pemandangan yang penuh tiang reklame membuat foto tidak lagi estetik, dan pada akhirnya menurunkan daya tarik destinasi.
Banyak pihak menilai bahwa persoalan sisa tiang reklame ini tidak sekadar masalah estetika, namun juga indikasi perlunya pengaturan tata ruang yang lebih tegas dan terencana. (Iman Suryanto)
