Ketika Wisata Batam ‘Terkubur’ Sisa Reklame: Wajah Indah Dang Anom Tertutup ‘Sampah Visual’

Pantauan di lapangan menunjukkan sebagian sisa-sisa sampah visual yang sudah tidak lagi memuat baliho atau materi promosi apa pun terlihat menumpuk. Namun, alih-alih dibersihkan, tiang-tiang itu dibiarkan menumpuk  begitu saja—berkarat, kusam, dan menjadi ‘pemandangan wajib’ di sepanjang jalan menuju kawasan wisata ini.

Warga lainnya, Lilis, juga menyebut bahwa keberadaan sampah visual tersebut bukan hanya merusak pemandangan, tapi juga mengurangi kenyamanan wisatawan.

“Orang yang foto-foto sering mengeluh. Katanya background-nya terlalu ramai. Sering juga ada turis Singapura bilang, ‘Batam ini indah, tapi apa perlu menempatkan sisa-sisa sampah visual di lokasi tersebut?” ujarnya menirukan.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA:  Mubaligh Ingin HM Rudi Sejahterakan Ulama di Kepri

Polusi Visual: Masalah Serius yang Sering Dianggap Remeh

Dalam dunia tata kota dan pariwisata, ‘polusi visual’ sebenarnya termasuk masalah serius. Ia tak memiliki bau busuk seperti sampah fisik, tak menimbulkan penyakit langsung, namun efeknya jangka panjang: merusak citra tempat wisata, menurunkan kualitas estetika kota, dan menggerus kenyamanan pengunjung.

Kota-kota wisata di dunia berlomba menertibkan reklame, menyederhanakan desain visual kota, serta membatasi pemasangan baliho agar tidak mengganggu lanskap alam. Di Batam, upaya seperti ini justru terasa belum menyeluruh.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *