Penerbit The Blind Spot merangkum argumen Winters dengan menunjukkan bahwa dominasi kekayaan dapat berlangsung di dalam sistem demokrasi itu sendiri, antara lain melalui kemampuan membatasi agenda, memengaruhi pasar gagasan, dan membentuk hukum untuk mempertahankan kekayaan.
Karena itu, persoalan Indonesia bukanlah:
“Apakah Indonesia mempunyai orang yang sangat kaya?”
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
“Apakah institusi Indonesia cukup kuat untuk mencegah kekayaan yang sangat besar berubah menjadi kekuasaan politik yang sangat besar?”
Dari Wealth Concentration menuju Policy Capture
Hubungan yang perlu diwaspadai dapat digambarkan sebagai suatu lingkaran:
Konsentrasi kekayaan
→ kekuasaan ekonomi
→ pengaruh politik
→ pengaruh terhadap kebijakan
→ perlindungan dan peningkatan kekayaan
→ konsentrasi kekayaan yang semakin besar.
Dalam terminologi Winters, salah satu motivasi penting oligarki adalah wealth defense: menggunakan sumber daya untuk mempertahankan kekayaan, mengurangi ancaman redistribusi, dan menjaga lingkungan hukum serta kebijakan yang menguntungkan pemilik kekayaan besar. The Blind Spot secara khusus melihat bagaimana kekuatan ekonomi dapat membentuk agenda dan aturan untuk mempertahankan sekaligus meningkatkan kekayaan.
Pada titik inilah ketimpangan ekonomi berubah menjadi masalah demokrasi.
Ketimpangan tidak lagi hanya menentukan siapa mampu membeli rumah lebih besar, mobil lebih mahal atau mengonsumsi lebih banyak. Ia mulai menentukan siapa mempunyai akses lebih besar terhadap proses pembentukan kebijakan publik.
Dan ketika itu terjadi, muncul risiko policy capture: kebijakan yang secara formal dibuat untuk kepentingan publik dapat secara tidak proporsional mencerminkan kepentingan kelompok yang mempunyai kemampuan ekonomi paling besar.
