“Wisatawan kini seperti diarahkan hanya pada dua pengalaman: tempat menginap dan tempat berbelanja,” lanjutnya. Padahal, esensi pariwisata bahari Kepri adalah perjalanan menyelam lebih dalam pada budaya Nusantara, laut yang berlapis warna biru zamrud, dan kekayaan tradisi masyarakat pesisir.
Bagi Surya, kondisi hari ini bukan alasan untuk menyerah. Justru menjadi pekerjaan rumah bersama — pemerintah, pelaku industri, komunitas lokal, hingga media. Infrastruktur, aksesibilitas, dan promosi adalah tiga tantangan utama yang masih mendesak untuk ditata.
“Harapannya, 2026 menjadi langkah baru,” tutur Surya penuh optimisme.
Tahun itu bukan sembarang tahun. Kepri berada tepat di beranda dua tetangga penting: Johor Baru (Malaysia) dan Singapura. Keduanya telah menetapkan target besar pada 2026, dengan strategi pariwisata agresif, integrasi transportasi, dan paket wisata regional yang semakin memikat wisatawan global.
“Kita harus ingat, 2026 adalah visi mereka,” kata Surya. “Banyak hal yang bisa kita pelajari dari mereka.”
Malaysia, misalnya, konsisten membangun konektivitas antarkota serta hubungan erat antara pemerintah pusat, daerah, dan sektor swasta. Sementara Singapura sangat piawai menciptakan pengalaman wisata berbasis inovasi dan acara internasional.









