Kembara Daik Lingga : Antara Mitos Gunung Daik dan Khazanah Sejarah

Oleh : Buralimar, Tokoh Pariwisata di Provinsi Kepri

Bayangkan sebuah destinasi di mana deru air terjun yang dingin berbaur mesra dengan lambaian sejarah masa lalu. Sebuah tempat ketika alam, legenda, kerajaan, adat dan kebudayaan Melayu seakan duduk dalam satu beranda, saling bercerita tentang masa yang telah lewat.

Selamat datang ke Daik Lingga, sebuah negeri yang tenang di pelukan Kepulauan Riau, tempat yang menawarkan pelarian sempurna dari hiruk-pikuk kehidupan, dari langkah yang berkejaran dalam bising, dan dari pekerjaan yang seakan tak pernah selesai.

Bacaan Lainnya

Inilah Bunda Tanah Melayu, pusat kehalusan budaya Melayu yang namanya telah lama meniti di bibir melalui pantun klasik yang begitu masyhur: “Pulau Pandan jauh ke tengah, Gunung Daik bercabang tiga, Hancur badan di kalang tanah, Budi baik dikenang juga.”

Pantun itu bukan sekadar rangkaian kata yang indah. Ia seperti jendela kecil yang membuka ingatan tentang sebuah negeri di mana gunung, laut, kerajaan dan budi Melayu bertemu dalam satu lanskap kebudayaan yang panjang.

Secara administratif, Daik merupakan pusat pemerintahan Kabupaten Lingga, Provinsi Kepulauan Riau, Indonesia. Letaknya yang berada di kawasan selatan Kepulauan Riau membuat Lingga memiliki kedekatan geografis dengan jalur perdagangan dan pelayaran dunia di Selat Melaka.

Dari Batam maupun Tanjungpinang, perjalanan menuju Lingga menjadi sebuah kembara tersendiri; meninggalkan hiruk-pikuk kota, menyeberangi laut, lalu perlahan memasuki sebuah negeri yang seolah berjalan dengan irama waktunya sendiri.

Pesona Daik Lingga dimulai dari alamnya yang masih asri. Destinasi unggulannya adalah Air Terjun Resun dengan aliran airnya yang jernih di tengah bentang hutan tropis. Tak jauh dari sana tersembunyi Lubuk Papan, sebuah lubuk alami yang dalam cerita masyarakat setempat dipercaya pernah menjadi tempat mandi para putri kerajaan.

Airnya yang sejuk mengalir dari kawasan pegunungan, melewati pepohonan tua dan akar-akar hutan yang menjadikan suasananya teduh, sunyi dan menenteramkan. Di tempat seperti inilah legenda tumbuh, bukan semata-mata untuk menjelaskan sesuatu yang tak terjangkau nalar, tetapi untuk menjaga hubungan manusia dengan alam yang sejak dahulu mereka hormati.

Pos terkait