Kembara Daik Lingga : Antara Mitos Gunung Daik dan Khazanah Sejarah

Di sana Gunung Daik tetap berdiri, meski cabangnya tak lagi tiga seperti dalam pantun. Ia tetap gagah meski sebagian kisahnya telah berubah menjadi legenda. Ia tetap indah meski waktu telah mengikis banyak jejak masa lalu.

Dan mungkin, seperti budi baik dalam pantun tua itu, sebagian keindahan memang tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya berpindah dari pandangan mata ke dalam ingatan, dari sejarah ke legenda, dari generasi ke generasi.

Daik Lingga akan selalu menunggu, bukan dengan kemegahan yang gaduh, melainkan dengan kesunyian yang memanggil. Sebuah panggilan lembut dari Bunda Tanah Melayu kepada anak cucunya untuk pulang, mengenang, dan kembali mencintai tanah leluhur. (***)

Bacaan Lainnya

Pos terkait