IDNNEWS.CO.ID, JAKARTA — Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) membawa perubahan cepat terhadap kebutuhan industri. Kondisi tersebut membuat kualitas sumber daya manusia (SDM) menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga ketahanan ekonomi Indonesia.
Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Mari Elka Pangestu menyampaikan hal tersebut dalam acara HUT KONTAN ke-30 dan Economic & Demographic Forum 2026 di Menara Kompas, Jakarta, Selasa (29/9/2026).
Menurut Mari, tantangan yang dihadapi Indonesia bukan hanya berkaitan dengan jumlah penduduk usia produktif, tetapi juga kemampuan SDM untuk beradaptasi dengan perubahan kebutuhan dunia kerja.
Perkembangan teknologi, kata dia, membuat ketidakpastian semakin besar, termasuk bagi generasi muda yang akan memasuki dunia kerja.
“Saya kemarin bertanya kepada Gen Z, saya ini Gen berapa ya? Jawabannya cukup menyedihkan, tapi juga kita harus lihat positifnya. Saya ini Gen Vintage,” canda Mari dalam sesi talkshow.
Mari mengatakan perkembangan AI menjadi tantangan bagi berbagai kelompok generasi. Bagi generasi yang lebih tua, AI menjadi teknologi yang menantang untuk diikuti. Sementara bagi Gen Z, perubahan teknologi juga menimbulkan ketidakpastian mengenai masa depan pekerjaan.
“Jadi untuk Gen Vintage menghadapi AI sebetulnya sangat-sangat menantang. Untuk Gen Z pun, ya, menjadi ketidakpastian, ‘Am I going to have a job?’ Itu kan. Jadi ini semua disruption,” katanya.
Menurut Mari, disrupsi teknologi dan AI menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapi industri Indonesia dalam menghadapi perubahan ekonomi ke depan.
“Tantangan dari disruption technology dan AI ini sesuatu yang harus kita hadapi di tahun ini dan tahun depan,” ujar Mari kepada awak media.
Ia menilai perubahan yang dibawa AI berlangsung sangat cepat dan mulai dirasakan oleh dunia usaha. Berdasarkan salah satu survei terhadap dunia industri yang disampaikannya, sebanyak 89% perusahaan sudah mulai memanfaatkan AI.
“AI sangat berada di kita semua dan perubahannya sangat cepat. Ini dari salah satu survei yang dilakukan untuk dunia usaha, 89% itu sudah mulai memanfaatkan, tetapi belum terintegrasi di dalam sistemnya,” jelas Mari.
Meski pemanfaatan AI telah meluas, integrasinya ke dalam sistem perusahaan masih menjadi tantangan. Dunia usaha masih berupaya menyesuaikan proses kerja dan sistem internal dengan perkembangan teknologi tersebut.
“Semuanya lagi struggling bagaimana kita mengintegrasikan AI di dalam sistem kita. Jadi, ini tantangan yang terbesar mungkin,” lanjutnya.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kesiapan menghadapi perubahan teknologi tidak hanya bergantung pada kemampuan menggunakan AI. Kemampuan SDM dan dunia usaha untuk beradaptasi dengan perubahan proses kerja juga menjadi faktor penting.
Dengan kebutuhan industri terhadap keterampilan dan jenis pekerjaan yang terus berubah, kualitas SDM dinilai menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan ketahanan ekonomi Indonesia di tengah percepatan perkembangan teknologi AI.
SUMBER: KONTAN
