Kemarau Lebih Panjang Bayangi Industri Data Center, Risiko Air dan Listrik Jadi Perhatian

IDNNEWS.CO.ID, JAKARTA — Industri data center di Indonesia mulai memperhitungkan dampak periode kemarau yang lebih panjang seiring prediksi musim hujan 2026/2027 yang datang lebih lambat di sebagian besar wilayah Indonesia.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi sebagian besar wilayah Indonesia baru memasuki musim hujan pada November hingga Desember 2026. Kondisi tersebut membuat periode kemarau yang lebih panjang menjadi salah satu faktor yang perlu diperhitungkan dalam operasional data center.

Ketua Indonesia Data Center Provider Organization (IDPRO) Hendra Suryakusuma mengatakan suhu lingkungan yang lebih tinggi dan berlangsung lebih lama dapat meningkatkan beban sistem pendinginan data center.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA:  OJK Sebut Hilirisasi dan Inovasi Perkuat Ketahanan Ekonomi Berkelanjutan 

“Ya, secara prinsip suhu lingkungan yang lebih tinggi dan berlangsung lebih lama dapat meningkatkan beban sistem pendinginan,” kata Hendra kepada Bisnis, Rabu (23/9/2026).

Menurutnya, ketika temperatur lingkungan meningkat, sistem heat rejection harus bekerja lebih keras untuk membuang panas yang dihasilkan perangkat teknologi informasi.

Pada sistem seperti air-cooled chiller atau dry cooler, temperatur luar yang lebih tinggi dapat menurunkan efisiensi sehingga energi yang dibutuhkan untuk pendinginan meningkat.

Sementara pada sistem evaporative cooling, temperatur dan kelembapan udara juga memengaruhi performa serta kebutuhan air. Karena itu, besarnya dampak terhadap konsumsi energi tidak dapat digeneralisasi untuk seluruh data center.

“Besarnya pengaruh terhadap konsumsi energi sangat bergantung pada desain cooling system, lokasi, temperatur dan humidity, IT load, operating set point, serta teknologi yang digunakan,” ujarnya.

BACA JUGA:  BP Batam Fasilitasi Dua Kepala Keluarga Terdampak PSN Rempang Eco-City ke Rumah Baru di Tanjung Banun

Hendra menjelaskan, data center modern telah dirancang berdasarkan kondisi cuaca ekstrem atau design conditions, bukan hanya temperatur rata-rata tahunan.

Namun, jika periode suhu tinggi berlangsung lebih lama dibandingkan pola historis, jumlah jam ketika cooling plant harus bekerja pada kapasitas lebih tinggi juga dapat bertambah. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat memengaruhi Power Usage Effectiveness (PUE) sebuah fasilitas.

“Karena itu bagi kami yang menjadi perhatian bukan sekadar ‘apakah cuaca lebih panas’, tetapi seberapa efisien fasilitas tersebut tetap dapat beroperasi ketika kondisi lingkungan berada pada kondisi ekstrem,” tutur Hendra.

Tiga Risiko Utama

Menurut Hendra, risiko iklim terhadap data center tidak hanya berkaitan dengan sistem pendinginan. Setidaknya terdapat tiga aspek yang perlu diperhatikan, yakni sistem cooling, keandalan pasokan listrik, dan ketersediaan air.

BACA JUGA:  Harga Minyak Naik, Pasar Pantau Potensi Pertemuan AS-Iran di PBB

Pada sistem pendinginan, kapasitas harus mencukupi ketika temperatur dan kelembapan berada pada kondisi ekstrem. Persoalan tersebut semakin penting untuk workload dengan kepadatan tinggi seperti AI dan GPU karena panas yang dihasilkan setiap rack jauh lebih besar dibandingkan komputasi tradisional.

“Untuk data center, climate risk sebenarnya mempunyai beberapa dimensi sekaligus,” katanya.

Dari sisi kelistrikan, temperatur tinggi dapat meningkatkan kebutuhan energi data center untuk pendinginan. Pada saat yang sama, konsumsi listrik masyarakat dan industri untuk air conditioning juga dapat meningkat sehingga memberikan tekanan terhadap peak demand sistem kelistrikan.

Karena itu, operator perlu memperhitungkan bukan hanya kapasitas sambungan PLN, tetapi juga ketahanan jaringan, redundansi pasokan, kesiapan backup power, serta koordinasi dengan utilitas.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *