Kemarau Lebih Panjang Bayangi Industri Data Center, Risiko Air dan Listrik Jadi Perhatian

Namun, Teguh menegaskan angka tersebut merupakan ilustrasi, bukan tambahan beban aktual akibat El Nino. Dampak aktual tetap bergantung pada desain pendinginan, lokasi, beban IT, dan efisiensi masing-masing fasilitas.

Teguh menilai operator perlu mendesain sistem pendinginan berdasarkan skenario suhu ekstrem, bukan hanya rata-rata historis.

Perkembangan teknologi juga memberikan ruang untuk meningkatkan efisiensi. Menurutnya, hyperscaler yang menggunakan teknologi liquid cooling dapat mencapai PUE sekitar 1,10–1,15, sedangkan fasilitas colocation dan enterprise berada pada kisaran 1,58–1,80.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA:  Generasi Sehat, Cerdas dan Produktif, Wapres Gibran Kawal Program MBG di Sekolah

Di Indonesia, fasilitas EDGNEX di Jakarta dirancang dengan PUE 1,32.

Selain efisiensi, Teguh mengatakan operator perlu memperkuat ketahanan pasokan energi. Hal tersebut mencakup pengujian ulang durasi cadangan genset dan baterai hingga kesiapan rantai pasok bahan bakar.

Kemarau yang lebih panjang juga membuat ketersediaan air perlu masuk dalam perencanaan.

“Rekomendasi prioritasnya adalah desain pendinginan berbasis skenario suhu ekstrem, target dan pelaporan PUE/WUE nasional, integrasi prediksi iklim BMKG ke perencanaan kapasitas, serta diversifikasi lokasi di luar Jabodetabek,” kata Teguh.

Risiko Air Data Center Jadi Perhatian Global

Risiko ketersediaan air juga menjadi perhatian global. World Economic Forum (WEF) mencatat sekitar 45% data center global berada di wilayah dengan tekanan air tinggi (high water stress).

BACA JUGA:  BPI KPNPA RI Laporkan Pengancaman Wartawan dan Kasus Korupsi di Lingga ke Mabes Polri dan Kejagung

Dalam laporan Data Centre Sustainability and Resilience: A Decision Playbook for AI Infrastructure, WEF mencatat data center berkapasitas 1 MW dapat menggunakan hingga 25,5 juta liter air per tahun untuk kebutuhan pendinginan atau sekitar 69.900 liter per hari.

Dengan asumsi tingkat konsumsi maksimum tersebut, data center berkapasitas 15 MW dapat membutuhkan hingga 382,5 juta liter air per tahun. Namun, konsumsi aktual dapat berbeda karena dipengaruhi teknologi pendinginan, iklim, lokasi, beban komputasi, dan efisiensi fasilitas.

WEF memperkirakan kebutuhan air yang berkaitan dengan pertumbuhan AI secara global dapat mencapai 4,2 miliar hingga 6,6 miliar meter kubik pada 2027.

Sementara itu, studi Lawrence Berkeley National Laboratory yang diterbitkan pada 2025 menemukan penggunaan air per workload data center dapat berbeda lebih dari 10.000 kali lipat, yang menunjukkan besarnya variasi konsumsi antar-fasilitas.

BACA JUGA:  Ketika Wisata Batam 'Terkubur' Sisa Reklame: Wajah Indah Dang Anom Tertutup ‘Sampah Visual’

Karena itu, WEF mendorong pengembang tidak hanya mengukur PUE, tetapi juga WUE serta memperhitungkan kondisi sumber air di lokasi, teknologi pendinginan, dan penggunaan kembali air.

Sistem seperti closed-loop cooling, daur ulang air limbah, dan pemanfaatan air hujan disebut dapat membantu menekan penggunaan air tawar.

WEF memperkirakan praktik keberlanjutan dan ketahanan dapat membuka peluang investasi data center global senilai US$700 miliar hingga US$1 triliun hingga 2030, atau sekitar Rp12.600 triliun hingga Rp18.000 triliun dengan asumsi kurs Rp18.000 per dolar AS.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *