Menjaga Budaya Sulawesi Selatan di Tanah Perantauan
Selain pemberdayaan perempuan, pelestarian budaya menjadi perhatian utama Andi Nurhiyari. Ia mengingatkan bahwa kehidupan di perantauan berpotensi membuat generasi muda semakin jauh dari bahasa, adat istiadat, dan nilai-nilai leluhur apabila tidak diwariskan secara berkelanjutan.
Karena itu, IWSS diharapkan menjadi rumah bersama untuk memperkenalkan filosofi sipakatau, sipakalebbi, dan sipakainge yang mengandung nilai saling memanusiakan, menghormati, dan mengingatkan.
Menurut Andi Nurhiyari, nilai-nilai tersebut bukan sekadar warisan budaya, melainkan pedoman dalam membangun hubungan sosial yang harmonis.
Ia juga mengingatkan masyarakat Sulawesi Selatan di Kepulauan Riau agar tetap menjaga jati diri tanpa mengabaikan adat istiadat masyarakat setempat.
Kepulauan Riau yang dihuni berbagai kelompok etnis dan budaya, menurutnya, membutuhkan sikap saling menghormati agar keberagaman tetap menjadi kekuatan bersama.
“Menjaga budaya sendiri bukan berarti mengabaikan budaya masyarakat tempat kita tinggal. Kita harus mampu mempertahankan jati diri sekaligus menghormati adat istiadat daerah setempat,” menjadi pesan yang ditekankan dalam arahannya.
Andi Nurhiyari turut menyoroti keteguhan, keberanian, dan kemandirian perempuan Bugis-Makassar yang secara turun-temurun berperan dalam menjaga keluarga, beradaptasi di lingkungan baru, serta membantu menopang perekonomian rumah tangga.











