Dimana TPT Batam masih berada di angka 7,68%, salah satu yang tertinggi di Kepri.
Amsakar menyebut terdapat beberapa faktor struktural yang menyebabkan hal tersebut. Pertama, transformasi Industri Batam saat ini tengah bergeser dari industri padat karya menuju industri padat modal, yang lebih mengandalkan teknologi dan otomatisasi. Dampaknya, kebutuhan tenaga kerja manual menurun.
Kedua, tingginya Arus Migrasi. Dimana konektivitas Batam melalui pelabuhan laut dan udara membuat kota ini mudah diakses. Mobilitas penduduk tinggi sehingga pencari kerja dari luar daerah terus berdatangan. Dan ketiga, kapasitas Pelatihan Tenaga Kerja yang Terbatas
“Tahun ini lebih dari 3.449 peserta mengikuti pelatihan. Namun jika BLK di Nongsa mendapat dukungan peralatan dari kementerian, lebih banyak anak-anak Batam yang bisa kita latih,” tegasnya.
Amsakar juga menegaskan bahwa aplikasi MANTAB didorong untuk menjadi bagian dari ikhtiar kolektif seluruh pemangku kepentingan—pemerintah, perusahaan, hingga masyarakat—untuk mengurai persoalan pengangguran.
“MANTAB adalah salah satu jalan untuk mempertemukan tenaga kerja dengan badan usaha. Kita harus bekerja bersama agar tingkat pengangguran terbuka bisa kita perkecil,” ujarnya.
Dengan pertumbuhan investasi yang kuat dan transformasi ekonomi yang terus berjalan, BP Batam berharap MANTAB dapat menjadi pilar penting dalam memperkuat ekosistem ketenagakerjaan yang adaptif dan berdaya saing tinggi. (Iman Suryanto)










