Investasi Data Center RI Capai 630 MW, Pipeline 1,3 GW Mulai Dibayangi Risiko Oversupply

Bukan Cuma Listrik

Direktur Eksekutif ICT Institute Heru Sutadi menilai kebutuhan data center nasional memang masih besar, terutama seiring pertumbuhan cloud computing, AI dan ekonomi digital. Namun, menurut dia, ekspansi investasi perlu dibarengi perhitungan demand yang realistis.

Saat ini, kapasitas operasional disebut sekitar 580 MW dengan pipeline tambahan sekitar 1,3 GW.

“Peluangnya besar, tetapi jangan sampai terjadi pembangunan kapasitas lebih cepat daripada pertumbuhan pelanggan,” ujar Heru kepada Kontan, Minggu (13/9/2026).

Bacaan Lainnya

Heru menilai data center sebaiknya dibangun secara bertahap berdasarkan kontrak atau kebutuhan pelanggan yang jelas. Sebab, jika kapasitas terbangun lebih cepat daripada permintaan, investasi tersebut berisiko menjadi overcapacity.

Risiko lainnya terletak pada besarnya modal yang harus dikeluarkan. Data center membutuhkan investasi besar dengan periode pengembalian yang panjang. Jika pelanggan tidak tumbuh sesuai proyeksi, tekanan terhadap arus kas dan kemampuan proyek membayar utang dapat meningkat.

BACA JUGA:  Pertamina Tambah Pasokan Biosolar 4 Persen, Distribusi BBM di Tebing Tinggi Berangsur Normal

Karena itu, struktur pembiayaan juga perlu diperhatikan. Heru menilai proyek dengan pelanggan yang jelas, kontrak jangka panjang dan kepastian pasokan listrik akan lebih sehat dibandingkan proyek yang hanya mengandalkan proyeksi pertumbuhan demand.

“Investasi yang sangat agresif tetap perlu diikuti perhitungan demand yang realistis,” katanya.

Di sisi infrastruktur, Hendra mengatakan tantangan industri kini bukan sekadar mencari lahan atau listrik. Investor membutuhkan lahan yang sekaligus memiliki akses listrik dan konektivitas memadai atau powered and connected land.

Data center membutuhkan listrik dalam jumlah besar dengan tingkat keandalan tinggi. Ketersediaan daya secara nasional belum otomatis menjamin kebutuhan fasilitas karena diperlukan redundansi jaringan, kestabilan tegangan dan frekuensi, kapasitas gardu serta kepastian tambahan daya sesuai jadwal pengembangan.

BACA JUGA:  Harris Waterfront Batam Perkenalkan 'Adrenalin Package', Sensasi Liburan Penuh Tantangan

Hendra menyebut PLN telah menunjukkan komitmen mendukung ekspansi data center. Sejumlah proyek memperoleh komitmen pasokan listrik berskala besar, antara lain 511 MVA untuk DayOne di Batam, lebih dari 1 GW untuk pengembangan BDx di sejumlah lokasi serta 2 x 725 MVA untuk campus Digital Edge.

Sementara itu, NeutraDC bekerja sama dengan PLN untuk mendukung ekspansi hyperscale di Cikarang hingga 200 MW.

“Pekerjaan berikutnya adalah memastikan komitmen kapasitas tersebut dapat diwujudkan menjadi power yang benar-benar available di lokasi dan pada waktu yang dibutuhkan,” ujar Hendra.

Ia menambahkan, kebutuhan industri bukan hanya electricity availability, tetapi juga electricity reliability. Artinya, kesiapan transmisi, gardu induk, feeder redundancy, kualitas listrik hingga kemampuan pemulihan pasokan ketika terjadi gangguan harus diperhitungkan.

BACA JUGA:  Telkom Gelar Kelas Khusus Guna Peningkatan Talenta Generasi Muda

Heru juga mengingatkan agar konsentrasi pembangunan data center di wilayah tertentu tidak menimbulkan tekanan baru terhadap jaringan listrik maupun mengurangi ketahanan sistem.

“Jangan hanya menghitung berapa megawatt kapasitas yang dibangun, tetapi juga dipastikan siapa penggunanya, berapa tingkat utilisasinya, dari mana listriknya, dan apakah infrastruktur pendukungnya siap,” kata Heru.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *