Selain itu, kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran juga mencatat inflasi 0,87 persen (mtm) dengan andil 0,08 persen. Kenaikan harga nasi dengan lauk menjadi pendorong utama, sejalan dengan meningkatnya harga bahan baku pangan.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau turut menyumbang inflasi sebesar 0,40 persen (mtm) dengan andil 0,11 persen. “Kenaikan harga beras dan cabai merah seiring meningkatnya konsumsi masyarakat pada periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) menjadi faktor utama,” jelasnya.
Secara spasial, inflasi terjadi di tiga kabupaten/kota IHK di Kepri. Kota Batam mencatat inflasi 0,40 persen (mtm) atau 3,13 persen (yoy), Tanjungpinang 0,99 persen (mtm) atau 5,83 persen (yoy), dan Karimun 0,01 persen (mtm) atau 4,13 persen (yoy).
Rony menegaskan, sinergi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota tetap terjaga di tengah pertumbuhan ekonomi Kepri yang solid. Bank Indonesia bersama TPID se-Kepri terus memperkuat Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS).
“GPIPS merupakan respons atas semakin kompleksnya tantangan ketahanan pangan, dengan penguatan di sisi hulu untuk menjamin pasokan, pengendalian inflasi jangka pendek yang lebih komprehensif, serta penguatan sinergi pusat dan daerah dalam mendukung program prioritas pemerintah,” ungkap Rony.
Sepanjang Februari 2026, sejumlah langkah stabilisasi harga telah dilakukan, antara lain High Level Meeting (HLM) TPID Kabupaten Lingga dan Bintan, publikasi iklan layanan masyarakat untuk menjaga ekspektasi inflasi, edukasi kepada masyarakat, serta pelaksanaan operasi pasar dan pasar murah serentak di Kepri.









