Sebagai bentuk refleksi makna Hari Pantun Sedunia, Endipat turut menyampaikan pantun yang mencerminkan nilai budaya dan keagamaan Melayu:
Pergi berlayar ke Pulau Penyengat,
Singgah sejenak di tepi perigi.
Pantun berakar pada adat dan syariat,
Menjaga akhlak, menuntun budi.
Menurut Endipat, pantun wajib terus dipertahankan sebagai ciri khas dan identitas Melayu, agar tidak tergerus oleh perkembangan zaman dan globalisasi.
“Pantun adalah jati diri Melayu. Ia harus terus hidup dan diwariskan kepada generasi muda,” tegasnya.
Ia juga mendorong agar pantun terus dikembangkan dan dipromosikan, tidak hanya di Kepulauan Riau dan dunia Melayu, tetapi juga di tingkat nasional dan internasional melalui pendidikan, kegiatan kebudayaan, serta pemanfaatan media digital.
Ke taman bunga memetik melati,
Melati putih harum baunya.
Pantun dijaga sepanjang masa dan negeri,
Agar Melayu dikenal dunia.
Peringatan Hari Pantun Sedunia diharapkan menjadi momentum bersama untuk menjaga, melestarikan, dan menghidupkan kembali pantun sebagai warisan budaya yang mengandung nilai luhur serta memperkuat identitas Melayu. (**)









