2. Perhatikan Presisi Motif dan Garis
Perbedaan berikutnya dapat dilihat dari tingkat presisi motif.
Batik tulis dibuat langsung dengan tangan menggunakan canting. Karena itu, ukuran motif tidak selalu sama persis, terdapat sedikit ketidakteraturan atau asimetri, dan tarikan garisnya tidak selalu lurus.
Ketidaksempurnaan tersebut justru menjadi salah satu karakter sekaligus nilai seni batik tulis.
“Batik cap, motifnya besar-besar dan merata. Sedangkan batik tulis detail motifnya kecil-kecil,” kata perajin asal Pekalongan, Nisa.
Batik cap memiliki pola yang lebih berulang, simetris, dan cenderung sederhana karena dibuat menggunakan stempel atau cap berbahan tembaga.
Sementara itu, tekstil printing umumnya memiliki motif yang sangat presisi, tajam, dan seragam karena dihasilkan oleh mesin. Produk tersebut dapat menyerupai tampilan batik, tetapi proses pembuatannya berbeda dengan batik tulis maupun batik cap.
3. Amati Sambungan Ornamen Motif
Cara lain untuk membedakan batik tulis dan batik cap adalah mengamati sambungan ornamen pada motif.
Pada batik tulis, garis pada motif dapat terlihat terputus-putus secara alami. Hal tersebut terjadi karena pembatik menggunakan canting secara manual dan pada kondisi tertentu ujung canting dapat sedikit terangkat dari permukaan kain.
“Kalau cap, pasti ada kayak puzzle. Antara satu dengan lainnya tidak menyatu,” tutur Peni.
Pada batik cap, bagian yang tampak terputus bukan tarikan garis, melainkan sambungan antarkomponen motif. Misalnya, pada motif bunga, bagian kelopak, tangkai, dan daun dapat terlihat tidak menyatu sempurna karena adanya batas bentuk pada cap tembaga yang digunakan.
Dengan memperhatikan bagian belakang kain, pinggiran, presisi motif, serta sambungan ornamen, masyarakat dapat lebih mudah membedakan batik tulis, batik cap, dan tekstil bermotif batik saat berbelanja.
SUMBER: KOMPAS











