“Kondisi dunia saat ini berubah sangat cepat. Kita menghadapi berbagai isu mulai dari perang, gangguan rantai pasok, harga komoditas yang tidak stabil, hingga isu-isu ekonomi politik global. Dalam situasi seperti ini, peran media menyampaikan informasi yang jernih sangat penting,” jelasnya.
BI menilai bahwa media menjadi salah satu elemen penting untuk memastikan masyarakat tidak keliru memahami kondisi ekonomi yang dipengaruhi begitu banyak variabel global.
Inflasi: Masalah Paling Dekat dengan Masyarakat
Salah satu fokus utama materi yang disampaikan BI dalam kegiatan ini adalah pentingnya literasi terkait inflasi. Adik menekankan bahwa inflasi merupakan indikator ekonomi yang paling dirasakan masyarakat karena kenaikan harga terjadi secara merata terhadap seluruh kelompok pendapatan.
“Pertumbuhan ekonomi itu sektoral — ada sektor yang naik, ada sektor yang biasa saja. Tapi inflasi itu memukul semua. Ketika harga beras naik, semua masyarakat merasakan dampaknya,” tegas Adik.
Ia menjelaskan bahwa inflasi bukan hanya soal kenaikan harga, tetapi juga penurunan daya beli. Melalui beberapa simulasi, Adik menggambarkan bagaimana uang Rp20.000 pada tahun 2021 berbeda nilainya dengan tahun 2023 atau 2025, bahkan ketika nominalnya sama.
“Kalau pendapatan tidak naik seiring inflasi, maka nilai uang yang kita pegang terus berkurang. Itulah mengapa menjaga inflasi tetap rendah merupakan prioritas utama Bank Indonesia.”jelasnya.
Menjelang Nataru dan Idulfitri, Risiko Inflasi Meningkat
BI Kepri mengingatkan bahwa dua momen besar, Natal dan Tahun Baru (Nataru) serta Idulfitri, selalu menjadi titik krusial dalam pengendalian inflasi. Permintaan berbagai komoditas diperkirakan meningkat, mulai dari pangan, transportasi, hingga tiket pesawat, sehingga berpotensi mendorong harga naik.
Adik juga menyinggung kebiasaan masyarakat yang cenderung meningkatkan belanja saat hari besar, sesuatu yang dapat memicu demand-pull inflation.










