Dengan jumlah penduduk lebih dari 2,2 juta jiwa dan lokasi yang berdekatan dengan Selat Malaka, Ansar menilai Kepri memiliki peluang besar untuk memainkan peran lebih besar dalam jaringan perdagangan regional.
Ia menyebut lebih dari 80 ribu kapal rata-rata melintas setiap tahun melalui Selat Malaka menuju Alur Laut Kepulauan Indonesia dan melakukan aktivitas perdagangan.
“Rata-rata setiap tahun lebih dari 80 ribu kapal melintas di Selat Malaka menuju Alur Laut Kepulauan Indonesia dan melakukan aktivitas perdagangan,” katanya.
Dorong Investasi Melalui Kawasan Ekonomi
Ansar mengatakan posisi strategis tersebut harus diterjemahkan menjadi kekuatan ekonomi melalui peningkatan investasi, perdagangan, konektivitas dan aktivitas industri.
Kepri, lanjutnya, telah memiliki sejumlah kawasan ekonomi strategis, mulai dari kawasan ekonomi khusus (KEK), kawasan perdagangan bebas dan pelabuhan bebas (FTZ), hingga kawasan yang dikembangkan untuk sektor industri, digital, pariwisata, logistik dan hilirisasi sumber daya mineral.
Keberadaan berbagai kawasan tersebut dinilai menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem investasi yang menawarkan pilihan lokasi sekaligus kemudahan bagi investor.
“Ekosistem-ekosistem inilah yang membentuk ekonomi. Masing-masing kawasan memiliki operator yang dapat mengundang investasi,” ujarnya.
Ansar menilai konsep pengembangan kawasan dengan dukungan berbagai fasilitas dan insentif tersebut dapat direplikasi di wilayah lain di Sumatera untuk memperkuat daya saing kawasan secara bersama-sama.
