Beberapa komitmen telah dijalin Singapura dengan negara lain, termasuk Australia dan Laos. Namun, menurut Suyono, Singapura sebenarnya berharap dapat mengimpor listrik dari Batam atau Kepri karena jaraknya yang sangat dekat sehingga lebih efisien dari sisi transmisi dan biaya.
“Singapura membutuhkan 2 GW listrik EBT hingga 2030. Impor dari Batam tentu jauh lebih strategis karena faktor kedekatan. Tetapi regulasi di Indonesia belum jelas, terutama terkait persentase bauran energi bersih dan prioritas pemenuhan kebutuhan domestik,” jelasnya.
Ketidakjelasan kebijakan ini dinilai menjadi faktor krusial yang membuat investor bersikap wait and see. Padahal jika skema ekspor listrik lintas batas dapat direalisasikan, Batam berpotensi menjadi pionir perdagangan energi hijau antarnegara di Asia Tenggara.
“Jika ini terwujud, bukan hanya menjadi terobosan perdagangan energi lintas batas, tetapi juga meningkatkan nilai investasi Batam secara keseluruhan,” tambahnya.
Masuknya investasi EBT dinilai tidak hanya berdampak pada sektor energi, tetapi juga memperkuat struktur ekonomi daerah. Suyono menegaskan, meskipun jumlah tenaga kerja yang terserap mungkin tidak sebesar sektor manufaktur, dampak jangka panjangnya jauh lebih strategis.
“Salah satu manfaat terbesar adalah terbukanya lapangan kerja dan transfer teknologi. Memang mungkin tidak sebesar industri manufaktur dalam hal jumlah tenaga kerja, tetapi daya saing Batam akan meningkat,” katanya.
Menurutnya, kesiapan infrastruktur energi yang andal dan berbasis energi bersih akan menjadi daya tarik tambahan bagi investor global, terutama perusahaan yang memiliki komitmen terhadap prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG).
Selain itu, kepastian pasokan dan tarif listrik yang kompetitif dapat meningkatkan kepercayaan investor di berbagai sektor, termasuk industri digital, data center, dan manufaktur berorientasi ekspor.
Di tengah tren global transisi energi dan komitmen pengurangan emisi karbon, Batam dinilai memiliki peluang emas untuk naik kelas menjadi hub energi hijau regional. Namun tanpa kepastian regulasi dan dukungan kebijakan yang progresif, potensi tersebut berisiko kembali tertunda.
“Momentum ini tidak boleh hilang. Batam punya posisi strategis, punya pasar yang jelas, tinggal bagaimana regulasinya bisa memberikan kepastian,” pungkas Suyono. (Iman Suryanto)









