Eksplorasi Wisata Lingga: Tugu Khatulistiwa, Simbol Pasak Bumi di Tanah Melayu

IDNNEWS.CO.ID, LINGGA – Di ujung Tanjung Teludas, angin laut berhembus pelan menyapu wajah-wajah pengunjung yang datang dengan rasa penasaran. Di hadapan mereka berdiri sebuah monumen yang tampak sederhana, namun menyimpan cerita panjang tentang sejarah, budaya, dan identitas: Tugu Khatulistiwa Pulau Lingga.

“Ini titik 0 Khatulistiwa,” ujar Lazuardi, pemandu wisata yang sehari-hari bertugas di Dinas Pariwisata Kabupaten Lingga, sambil menunjuk ke arah tugu dengan nada penuh keyakinan pada Senin (10/8/2026) siang.

Bagi sebagian orang, garis khatulistiwa mungkin hanya sekadar konsep geografis. Namun di Lingga, garis imajiner itu menjelma menjadi titik kebanggaan. Bahkan, menurut Lazuardi, Pulau Lingga memiliki lebih dari satu titik nol.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA:  Atasi Banjir dan Tertibkan Tata Kota, Wali Kota Batam Tinjau Rumah Pompa Jodoh dan Truk Kontainer di Bahu Jalan Batu Ampar

“Kalau untuk di Pulau Lingga, kita ada tiga titik 0. Salah satunya di Tanjung Teludas ini, lalu di Sasah, dan satu lagi di pulau depan sana,” jelasnya.

Perjalanan menemukan titik tersebut bukanlah hal instan. Lazuardi mengingat kembali momen tahun 2007, ketika ia turut serta dalam tim survei bersama Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Batusangkar. Kala itu, kawasan ini juga ditelusuri karena jejak sejarahnya sebagai peninggalan masa pendudukan Jepang.

“Di bawah sana itu ada dapur Jepang,” katanya, menunjuk ke arah lereng yang tertutup vegetasi.

Sisa-sisa sejarah yang nyaris tersembunyi, namun menjadi bagian penting dari narasi kawasan ini.

BACA JUGA:  HARRIS Barelang Batam Hadirkan Dua Promo Spesial Musim Liburan: Family Fun Dip & Dine dan July Dreamcation

Meski demikian, pilihan pembangunan tugu akhirnya jatuh pada lokasi Tanjung Teludas. Alasannya sederhana namun strategis: aksesibilitas dan visibilitas yang lebih baik bagi wisatawan.

Tugu yang berdiri saat ini bukanlah bentuk pertama. Lazuardi menjelaskan bahwa monumen ini telah mengalami transformasi.

“Yang pertama dulu bentuknya rehal, tempat Al-Qur’an. Sekarang dibuat seperti pahar,” ungkapnya.

Dalam tradisi Melayu, pahar adalah wadah khusus yang digunakan dalam berbagai upacara adat—simbol penghormatan dan kemuliaan.

Namun yang paling menarik perhatian adalah ornamen keris yang menjulang dari tugu tersebut. Bagi pengunjung awam, mungkin hanya terlihat sebagai hiasan. Tapi di baliknya tersimpan makna filosofis yang dalam.

BACA JUGA:  PGN Salurkan 147 BBTUD Gas Bumi di Sumatera dan Kepri, Perkuat Daya Saing Industri

“Kalau keris itu, filosofinya sebagai pasak,” kata Lazuardi.

“Karena ini titik 0, ibaratnya pasak bumi. Keris itu senjata orang Melayu, jadi kita simbolkan sebagai penguat, sebagai penanda.”

Di sanalah, di antara angin laut dan cerita yang mengalir, Tugu Khatulistiwa Lingga berdiri bukan sekadar penanda geografis. Ia adalah simpul antara ilmu pengetahuan, sejarah kolonial, dan kearifan lokal Melayu yang terus hidup.

Bagi siapa pun yang datang, tempat ini bukan hanya tentang berdiri di garis nol dunia. Tapi juga tentang memahami bahwa setiap titik di peta, sekecil apa pun, selalu punya cerita besar untuk diceritakan. (Iman Suryanto)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *