Dari Tangan Pengrajin Lingga ke Pasar Malaysia, Ketika Tenun Melayu Menjadi Peluang Ekonomi

Keterbatasan peralatan menjadi salah satu tantangan yang dihadapi Rumah Tenun Lingga. Karena itu, dukungan terhadap kapasitas produksi menjadi penting agar permintaan pasar dapat diikuti dengan kemampuan produksi yang memadai.

Rumah Tenun Lingga merupakan salah satu UMKM yang mendapatkan pembinaan dan dukungan peralatan dari Bank Indonesia Perwakilan Kepulauan Riau (BI Kepri).

Isnawati mengatakan, pihaknya mendapatkan bantuan berupa lima unit alat tenun bukan mesin (ATBM). “Sebelumnya dari awal kami memang punya lima alat. Kemudian ada bantuan dari Bank Indonesia,” ujarnya.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA:  Gubernur Ansar Dukung UKW KJK-UPN Yogyakarta, Siap Hadir Buka Ujian Wartawan

Bantuan tersebut, menurut Isnawati, memberikan dampak terhadap aktivitas produksi. “Alhamdulillah, kalau untuk produksi sudah terbantu dengan adanya bantuan ini,” katanya.

Bagi usaha berbasis kerajinan seperti Rumah Tenun Lingga, peralatan bukan sekadar fasilitas produksi. ATBM menjadi salah satu modal penting untuk menjaga keberlangsungan usaha sekaligus membantu pengrajin memenuhi permintaan konsumen.

Menariknya, pasar kain tenun Lingga tidak berhenti di dalam negeri. Produk songket yang dibuat para pengrajin mulai mendapatkan tempat di Malaysia. Pesanan dari negeri jiran tersebut bahkan masih terus berjalan.

“Sudah banyak ke Malaysia. Kami banyak mendapat pesanan dari Malaysia,” kata Isnawati.

BACA JUGA:  Batam Mantapkan Strategi Ekonomi Jelang Akhir Tahun melalui High Level Meeting TPID–TP2DD

Permintaan tersebut menjadi gambaran bahwa produk kerajinan daerah memiliki peluang untuk masuk ke pasar lintas negara ketika kualitas, keunikan motif, dan nilai budaya mampu menjadi daya tarik.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *