Mereka belajar mengumpulkan, membersihkan, mengeringkan, menggiling, hingga mengemas bubuk tinggi kalsium dari cangkang gonggong secara mandiri.
“Inovasi ini tidak hanya meningkatkan kualitas lahan pertanian, tetapi juga mendorong praktik pertanian ramah lingkungan serta memperkuat penerapan ekonomi sirkular berbasis potensi lokal,” lanjut Fajriyah.
Hanya dalam setahun berjalan, SI GOPAL mencatat dampak yang bukan sekadar statistik:
1. 0,288 ton limbah cangkang gonggong berhasil dikurangi—angka yang menunjukkan perubahan perilaku dan keberlanjutan.
Peningkatan pendapatan keluarga nelayan, di mana setiap 5 kg bubuk yang terjual menambah Rp25.000 bagi anggota kelompok.
2. Efisiensi biaya produksi sebesar 4% di KWT, membantu petani menekan pengeluaran sekaligus meningkatkan produktivitas.
3. Munculnya kelompok baru Poklahsar Lance Perkasa membuka ruang partisipasi lebih luas untuk perempuan dalam kegiatan sosial-ekonomi.
4. Lebih dari sekadar menciptakan produk, SI GOPAL membangun rasa percaya diri warga bahwa solusi terbaik bagi mereka dapat lahir dari lingkungan mereka sendiri.









