Tak hanya itu, kelas kesehatan, edukasi mitigasi bencana, hingga penguatan koperasi nelayan juga berjalan simultan, menghubungkan semua lapisan masyarakat dalam satu ekosistem pemberdayaan.
“Program Pelita ini bertujuan tidak hanya meningkatkan kualitas lingkungan dan kesejahteraan masyarakat, tapi juga memperkuat kemandirian dan ketahanan sosial warga secara berkelanjutan,” ujar Fajriyah Usman, Sekretaris Perusahaan PGN.
Di balik hijaunya lahan Tembesi, tersimpan tantangan yang lama dihadapi petani setempat: tanah yang memiliki pH rendah atau bersifat asam. Keasaman ini membuat unsur hara sulit diserap tanaman. Akibatnya, hasil panen merosot dan usaha pertanian sering dianggap tidak lagi menguntungkan.


PGN melihat persoalan ini tidak semata-mata sebagai masalah teknis, tetapi juga hambatan psikologis bagi masyarakat yang mulai kehilangan harapan pada pertanian ramah lingkungan.
Di saat yang sama, Tembesi memiliki satu potensi yang selama ini terabaikan: timbunan limbah cangkang gonggong. Setiap hari, cangkang-cangkang itu menumpuk dari aktivitas kuliner warga, dibiarkan menjadi sampah yang tak terkelola secara optimal.
PGN kemudian memunculkan ide yang awalnya terdengar sederhana: bagaimana jika limbah cangkang itu diolah menjadi penetral tanah?
Ide itu melahirkan inovasi SI GOPAL – “Sisa Gonggong Jadi Penetral Lahan”. Melalui pembentukan Poklahsar Lance Perkasa, ibu-ibu rumah tangga yang tidak memiliki penghasilan tetap menjadi aktor utama pengolahan limbah tersebut.









