Selanjutnya Silvani menambahkan, Kampung Bahari Si Pelaut melibatkan sejumlah kelompok masyarakat, antara lain Kelompok Usaha Bersama (KUB) Terihindo Jaya Lestari, KUB Belian Tuah, Kelompok Wanita Tani Warisan Lestari, dan Poklahsar Sukses Bersama.
Bersama-sama, para kelompok mengembangkan budidaya ikan kakap, bawal, dan kerapu, budidaya ikan air tawar dan sayuran melalui aquaponik, rehabilitasi mangrove, serta mengolah hasil perikanan menjadi beragam produk usaha.
Ketua KUB Terihindo Jaya Lestari, Saidar, menyampaikan pendampingan yang diberikan Pertamina memberikan perubahan besar bagi masyarakat setempat.
Kelompok nelayan yang dahulu mengalami kegagalan dalam budidaya akibat keterbatasan kapasitas dan akses pasar, kini mampu mengembangkan usaha secara berkelanjutan melalui pendampingan yang diberikan.
“Dulu kami hanya kelompok nelayan yang mengandalkan hasil tangkapan laut yang sangat bergantung pada kondisi cuaca dan musim. Selain pendampingan, kami dibekali penguatan kapasitas, penyediaan sarana budidaya, serta pengembangan akses pasar. Dukungan ini menjadi titik balik kami untuk membangun kembali usaha budidaya perikanan secara lebih terencana, berkelanjutan, dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat”, ungkap Saidar.
Dari kulit hingga tulang ikan, kelompok mengolahnya menjadi enam produk unggulan, yakni keripik kulit ikan tenggiri original dan pedas manis, kerupuk kulit ikan kakap, swiss roll abon ikan, abon ikan, serta penyedap rasa dari tulang ikan.
Kepala udang yang sebelumnya tidak dimanfaatkan juga diolah menjadi penyedap rasa. Beragam produk tersebut kini telah dipasarkan hingga Malaysia dan Singapura.











