“Penurunan wisman selama Ramadan memang sudah biasa. Tapi di balik kondisi itu ada warning yang tidak kita sadari. Dampak konflik global bisa memicu tekanan ekonomi yang lebih luas, termasuk pada perilaku belanja dan perjalanan masyarakat di negara tetangga,” jelasnya.
Surya menuturkan, saat melakukan kunjungan kerja ke Johor, Malaysia, beberapa waktu lalu, ia melihat situasi yang berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Biasanya, bazar Ramadan di Malaysia selalu ramai dan menjadi magnet bagi masyarakat yang berburu takjil hingga berbagai kebutuhan Lebaran. Tradisi tersebut bahkan sudah terasa sejak awal Ramadan, ditandai dengan meningkatnya aktivitas belanja, perburuan kue Lebaran, pakaian baru, hingga persiapan mudik.
Namun kali ini suasana yang terlihat berbeda. Pemerintah Malaysia bahkan telah memberikan imbauan kepada masyarakat untuk lebih berhemat dalam pengeluaran.
“Kerajaan Malaysia sudah memberikan maklumat kepada rakyatnya agar segera berhemat dan berbelanja seperlunya. Ini karena dampak perang yang memicu potensi kenaikan harga BBM di negara mereka. Masyarakat diminta mengurangi aktivitas belanja dan kegiatan di luar kebutuhan pokok,” ungkap Surya.
Kondisi tersebut, lanjutnya, tentu berpotensi memberikan dampak bagi Batam dan Kepulauan Riau yang selama ini sangat bergantung pada kunjungan wisatawan dari Malaysia dan Singapura.
Surya mengingatkan bahwa pada akhir 2025 lalu pemerintah daerah sempat merayakan pencapaian jumlah kunjungan wisatawan mancanegara yang meningkat signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.
Capaian tersebut kemudian memunculkan optimisme baru dengan target kunjungan wisatawan yang cukup ambisius pada 2026.









