IDNNEWS.CO.ID, JAKARTA — Jumlah lulusan perguruan tinggi di Indonesia terus bertambah setiap tahun. Namun, gelar sarjana ternyata belum selalu menjamin seseorang lebih mudah mendapatkan pekerjaan.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan sekitar satu juta lulusan perguruan tinggi di Indonesia masih mencari pekerjaan. Kondisi tersebut turut menyoroti persoalan ketidaksesuaian antara kompetensi lulusan dan kebutuhan dunia kerja.
Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (UNAIR) sekaligus Sosiolog Pendidikan, Prof. Dr. Bagong Suyanto, Drs., M.Si., menilai peningkatan tingkat pendidikan idealnya diikuti dengan peningkatan kompetensi, kualitas pekerjaan, hingga kesejahteraan.
Namun, menurutnya, kondisi tersebut belum sepenuhnya terjadi di Indonesia.
“Lulusan perguruan tinggi masih dapat menemukan pekerjaan yang tidak sejalan dengan pendidikan maupun kompetensi yang mereka miliki,” kata Bagong, dikutip dari laman resmi UNAIR, Selasa (1/9/2026).
Kompetensi Lulusan Tak Sesuai Kebutuhan Industri
Bagong menilai salah satu persoalan yang dihadapi lulusan perguruan tinggi adalah ketidaksesuaian atau mismatch antara kompetensi yang dimiliki dengan kebutuhan pasar kerja.
Perkembangan dunia industri berlangsung cepat. Sementara itu, sebagian lulusan perguruan tinggi dinilai belum memiliki keterampilan yang relevan dengan kebutuhan industri yang terus berubah.
“Akibatnya, tidak seluruh lulusan mampu memenuhi tuntutan pekerjaan yang tersedia,” ujarnya.
Persoalan tersebut, lanjut Bagong, juga berkaitan dengan arah pembangunan industri di Indonesia yang dinilai cenderung mengutamakan industri padat modal.
Industri padat modal mengandalkan penggunaan teknologi, mesin, dan modal dalam proses produksinya. Kondisi tersebut membuat kebutuhan terhadap tenaga kerja relatif lebih sedikit dibandingkan industri yang mengandalkan tenaga manusia dalam jumlah besar.
“Gelar sarjana tidak lagi dapat menjadi jaminan seseorang untuk memperoleh pekerjaan dan meningkatkan taraf hidupnya,” ujar Bagong.
