BP Batam Dorong Data Centre Bangun SWRO Mandiri, Jaga Pasokan Air Masyarakat

IDNNEWS.CO.ID, BATAM — Kepala Badan Pengusahaan (BP) Batam sekaligus Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, mendorong pembangunan instalasi teknologi Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) atau desalinasi air laut secara mandiri untuk memenuhi kebutuhan air kawasan industri data centre, khususnya di Kabil dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Nongsa.

Kebijakan tersebut sejalan dengan komitmen pemerintah dalam memastikan pemenuhan kebutuhan air bagi investasi data centre tetap berjalan beriringan dengan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat.

Dengan skema tersebut, kebutuhan air untuk operasional data centre diharapkan dapat dipenuhi melalui pembangunan SWRO secara mandiri sehingga tidak mengganggu pasokan air waduk yang selama ini dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Kota Batam.

Bacaan Lainnya

Dari 10 rencana pengembangan data centre ke depan, satu di antaranya telah beroperasi dan menyambut baik kebijakan pemerintah terkait pembangunan SWRO secara mandiri. Skema serupa juga akan dikembangkan oleh sejumlah data centre lainnya.

Amsakar mengatakan, setiap investasi data centre yang membutuhkan air dalam jumlah besar didorong untuk membangun instalasi SWRO guna memenuhi kebutuhan operasionalnya.

“Kita ingin investasi tumbuh, tetapi kebutuhan pendukungnya juga harus dipikirkan. Karena itu, untuk industri yang membutuhkan air dalam jumlah besar, kita dorong adalah bagaimana mereka memiliki sumber air sendiri melalui teknologi SWRO,” kata Amsakar di Batam Centre, Rabu (23/9).

Menurutnya, kebijakan tersebut merupakan bagian dari upaya BP Batam memastikan pertumbuhan industri tidak berjalan sendiri, tetapi tetap memperhatikan kebutuhan dasar masyarakat.

Kebutuhan air bagi sektor industri, lanjut Amsakar, tidak boleh sepenuhnya menambah beban terhadap sumber air baku yang selama ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di Kota Batam.

Dalam dua hingga tiga tahun mendatang, Batam diproyeksikan memiliki tambahan kapasitas produksi air melalui SWRO sekitar 750 liter per detik pada tahap awal. Kapasitas tersebut selanjutnya ditargetkan meningkat hingga sekitar 1.000 liter per detik melalui pembangunan SWRO di dua kawasan, yakni KEK Nongsa dan kawasan industri Kabil.

“Ini betul-betul komplementer, saling melengkapi antara kebijakan kita dengan kepentingan pelaku usaha, tanpa mengganggu kapasitas produksi waduk untuk masyarakat ke depan,” ujarnya.

Peluang untuk Kebutuhan Masyarakat

Keberadaan instalasi SWRO nantinya diharapkan tidak hanya memberikan manfaat untuk kebutuhan industri. Investasi tersebut juga membuka peluang dalam menjaga ketahanan air bersih bagi kebutuhan rumah tangga.

Apabila kapasitas air hasil pengolahan nantinya melebihi kebutuhan operasional data centre, kelebihan kapasitas tersebut berpotensi dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Namun, pemanfaatannya tetap akan mempertimbangkan sejumlah aspek, seperti kapasitas produksi, kualitas air hasil pengolahan, serta kesiapan jaringan distribusi.

Amsakar berharap pendekatan tersebut dapat menjadi langkah strategis untuk mencari sumber air baru seiring meningkatnya kebutuhan Batam sebagai kawasan investasi sekaligus wilayah perkotaan.

“Jadi bukan hanya industrinya yang kita pikirkan. Kita juga melihat bagaimana investasi ini bisa memberikan manfaat yang lebih luas. Kalau kapasitasnya memungkinkan dan infrastrukturnya siap, tentu ada peluang untuk dimanfaatkan bagi masyarakat,” katanya.

Keberadaan data centre menjadi salah satu sektor strategis untuk memperkuat struktur ekonomi Batam di masa depan. Kehadirannya diharapkan dapat mendorong pertumbuhan sektor konstruksi, tenaga kerja profesional, serta berbagai sektor pendukung lainnya yang memberikan efek berganda bagi perekonomian lokal.

Pos terkait