“Kami mengundang Ketua LIRA Kepri datang ke Pulau Kasu. Silakan periksa dan telusuri bagaimana pembangunan ini dilakukan,” ujar seorang tokoh masyarakat.
Perwakilan Forum RT/RW Pulau Kasu, Dani, menegaskan bahwa masyarakat menjadi saksi atas perjalanan pembangunan sejak 2018 hingga kini.
“Kami yang menyaksikan langsung pembangunan di Pulau Kasu. Perjuangan ini dimulai sejak tahun 2018 hingga 2026 dan masih terus berjalan. Ini bukan pekerjaan yang baru dilakukan sekarang. Atas ucapan dan tudingan proyek siluman tersebut, kami meminta pertanggungjawaban,” katanya.
Ia menambahkan, apabila tidak ada itikad baik untuk memberikan klarifikasi, masyarakat siap menempuh langkah lanjutan, termasuk menggelar aksi di Kantor LIRA Kepri di Batam.
Aspirasi masyarakat Pulau Kasu sendiri telah disampaikan melalui aksi pada Senin (15/6/2026). Sekitar 1.050 warga mendatangi Kantor LIRA Kepulauan Riau di kawasan Grand BSI, Batam Kota.
Bagi masyarakat Pulau Kasu, kisah pembangunan masjid dan pesantren bukan hanya tentang berdirinya sebuah bangunan. Lebih dari itu, bangunan tersebut menjadi simbol kebersamaan, pengorbanan, dan gotong royong yang mereka jaga selama bertahun-tahun.
Karena itulah, mereka berharap perjuangan tersebut tidak dipandang sebagai sesuatu yang keliru, melainkan sebagai bukti bahwa sebuah komunitas kecil mampu membangun masa depannya dengan kekuatan sendiri. (**)










