Batam Bahas Ancaman Fast Fashion dan Mikroplastik Lewat Film Menolak Punah

Anak Muda Didorong Terlibat dalam Gerakan Lingkungan

Diskusi turut menghadirkan Hasbi, pemuda berusia 19 tahun yang mengembangkan praktik penggunaan kembali dan pengolahan pakaian bekas menjadi produk yang memiliki nilai guna baru.

Hasbi membagikan pengalamannya dalam mengkampanyekan daur ulang tekstil hingga ke berbagai negara. Menurutnya, gerakan lingkungan membutuhkan konsistensi dan kesabaran agar semakin banyak masyarakat terlibat.

“Lebih baik melakukan sesuatu daripada tidak sama sekali,” katanya.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA:  Pengawasan Disnakertrans Tegaskan KEK Tanjung Sau Kawasan Industri Taat Regulasi

Ia berharap semakin banyak anak muda yang berani memulai gerakan lingkungan dari lingkup terdekat.

Salah satu penggagas kegiatan lingkungan melalui Tanjung Uma Empowerment dari BatamOn Global Group, Windasari, mengatakan kegiatan tersebut merupakan gerakan kolektif yang melibatkan berbagai komunitas dan organisasi.

Menurutnya, kegiatan yang awalnya direncanakan secara sederhana tersebut dapat berkembang menjadi acara terbuka di ruang publik berkat dukungan berbagai pihak.

Windasari juga membagikan pengalaman saat mengikuti kegiatan pembersihan pesisir di Batam. Dalam kegiatan tersebut, pihaknya menemukan banyak sampah tekstil di kawasan pesisir dan laut.

Temuan itu menunjukkan bahwa persoalan yang diangkat dalam film Menolak Punah bukan sekadar isu global, melainkan sudah berkaitan dengan kondisi lingkungan di Batam.

BACA JUGA:  Telkomsel Kembali Salurkan Bantuan CSR dan Posko Layanan di Padang

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) Kepri Mustafa serta perwakilan pengurus Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Kepulauan Riau turut hadir dalam kegiatan tersebut.

Mustafa mengatakan KADIN Kepri memberikan perhatian terhadap isu lingkungan dalam dunia usaha. Ia pun mengapresiasi kegiatan nonton bareng dan diskusi yang membuka ruang bagi masyarakat untuk membicarakan keberlanjutan lingkungan.

Perwakilan Dompet Dhuafa Kepri, Wulan, menambahkan bahwa kegiatan tersebut dapat terlaksana melalui kolaborasi berbagai pihak. Menurutnya, kerja sama menjadi kunci agar isu lingkungan tidak berhenti sebagai wacana, tetapi dapat direspons melalui gerakan bersama.

Kegiatan kemudian ditutup dengan doa bersama untuk korban bencana di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang dipimpin Wulan, dilanjutkan foto bersama seluruh peserta.

BACA JUGA:  BP Batam Perkuat Kolaborasi Ekonomi dengan India, Bidik Lonjakan Investasi dan Ekspor

Melalui kegiatan tersebut, pesan Menolak Punah tidak berhenti pada layar film. Para peserta diajak melihat kembali kebiasaan konsumsi sehari-hari dan memahami bahwa menjaga lingkungan merupakan tanggung jawab bersama, termasuk di tengah perkembangan Batam sebagai kota industri dan perdagangan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *