“Sebagai negara dengan kunjungan tertinggi ke Kepri, terutama Batam dan Bintan, penggunaan QRIS oleh wisatawan Singapura menjadi faktor penting dalam mempercepat digitalisasi layanan wisata. Wisatawan kini dapat melakukan pembayaran dengan nilai konversi otomatis, cepat, dan tanpa biaya tambahan yang memberatkan,” tegasnya lagi.
Bank Indonesia menegaskan bahwa pertumbuhan QRIS Cross Border tidak hanya meningkatkan kemudahan wisatawan, tetapi juga membawa dampak positif bagi perekonomian daerah. Arus transaksi yang masuk langsung tercatat dalam sistem pembayaran domestik, sehingga memberikan multiplier effect terhadap:
1. Peningkatan transaksi pelaku UMKM
2. Penguatan ekosistem digital sektor pariwisata
3. Efisiensi biaya operasional pelaku usaha
4. Perluasan akses pembayaran digital hingga ke level pedagang kecil
5. Penguatan penggunaan Rupiah dalam transaksi lintas negara berbasis digital
Selain itu, QRIS Cross Border juga menjadi bagian dari upaya integrasi pembayaran ASEAN, yang memungkinkan masyarakat negara-negara di kawasan untuk bertransaksi lebih mudah dan efisien di berbagai destinasi wisata.
Dengan lonjakan transaksi dari Thailand, Malaysia, dan Singapura yang terjadi secara konsisten, Kepri berpotensi menjadi salah satu pusat ekonomi digital dan pariwisata di Asia Tenggara. Tingginya jumlah kunjungan wisatawan, dukungan infrastruktur digital, serta kesiapan merchant lokal telah menempatkan Kepri sebagai daerah dengan adopsi QRIS Cross Border paling progresif di Indonesia.
“Bank Indonesia memperkirakan bahwa penggunaan QRIS lintas negara akan terus meningkat seiring ekspansi implementasi ke negara lainnya, seperti Jepang, Korea Selatan, dan India. Jika tren ini berlanjut, Kepri dapat meraih potensi transaksi lintas batas yang jauh lebih besar pada 2026 mendatang,” tutupnya. (Iman Suryanto)









