BI Tahan Suku Bunga 5,75 Persen, Kredit Perbankan Agustus Tumbuh 13,65 Persen

IDNNEWS.CO.ID, JAKARTA – Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 5,75% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) 22-23 September 2026.

Dalam keputusan tersebut, BI juga mempertahankan suku bunga Deposit Facility sebesar 4,75% dan Lending Facility sebesar 6,50%.

Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti mengatakan keputusan tersebut konsisten dengan strategi stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah tekanan eksternal yang masih kuat, sekaligus mendukung pencapaian sasaran inflasi sebesar 2,5% ± 1% pada 2026 dan 2027.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA:  Muhammad Rudi Ingin Ekonomi Kepulauan Riau Tumbuh Signifikan

“Keputusan ini tetap konsisten dengan strategi stabilisasi nilai tukar Rupiah di tengah tekanan eksternal yang masih kuat guna mendukung pencapaian sasaran inflasi sebesar 2,5±1% pada tahun 2026 dan 2027 serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” ujar Destry dalam konferensi pers di Bank Indonesia, Rabu (23/9/2026).

Di tengah kebijakan suku bunga yang dipertahankan, penyaluran kredit perbankan masih menunjukkan pertumbuhan. Kredit perbankan pada Agustus 2026 tumbuh 13,65% secara tahunan (year on year/yoy), meningkat dibandingkan Juli yang sebesar 13,58%.

Pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh kredit investasi yang melesat 25,11% yoy.

Akselerasi kredit tidak terlepas dari kebijakan makroprudensial longgar yang terus diperkuat BI melalui Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM).

BACA JUGA:  Rupiah 2027 Diprediksi Menguat, BI Pasang Proyeksi Rp17.300-Rp17.800 per Dolar AS

Hingga pekan pertama September 2026, insentif KLM yang diperoleh perbankan tercatat mencapai Rp461,2 triliun. Alokasi terbesar berasal dari KLM financing channel sebesar Rp338,2 triliun. Sementara itu, Rp123,0 triliun lainnya dialokasikan untuk KLM Pendalaman Pasar Uang (PPU) yang baru diperkenalkan BI tahun ini.

BI memilih mendorong likuiditas perbankan melalui jalur non-suku bunga agar penyaluran kredit ke sektor riil tetap berjalan di tengah tekanan eksternal.

Minat penyaluran kredit atau lending appetite perbankan juga masih longgar, didukung pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang mencapai 10,94% yoy.

BI memperkirakan pertumbuhan kredit sepanjang 2026 tetap berada dalam kisaran 8%-12%.

BACA JUGA:  Gubernur BI Ungkap Alasan Pertahankan BI-Rate 5,75% di Tengah Gejolak Timur Tengah

Ketahanan sistem perbankan turut menopang tren pertumbuhan kredit. Rasio kecukupan modal atau CAR perbankan pada Juli 2026 tercatat 23,84%, sedangkan rasio kredit bermasalah atau NPL berada di level 2,10% secara bruto dan 0,81% secara neto.

Kondisi tersebut memberikan ruang bagi perbankan untuk terus melakukan ekspansi meskipun biaya dana global masih tinggi.

BI juga terus memperkuat bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran yang bersinergi dengan kebijakan pemerintah untuk menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat dan berdaya tahan.

BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berada dalam kisaran 4,9%-5,7%.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *