IDNNEWS.CO.ID, JAKARTA — Visibilitas data ekspor komoditas dan peningkatan daya saing eksportir dinilai dapat memperkuat kinerja perdagangan Indonesia. Penguatan tersebut menjadi semakin penting di tengah ketidakpastian global dan tekanan terhadap kinerja ekspor.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit US$1,61 miliar pada Mei 2026 dan kembali defisit US$450 juta pada Juni 2026. Namun, Indonesia berhasil kembali mencatatkan surplus pada Juli 2026 sebesar US$120 juta.
Ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM) Eddy Junarsin mengatakan visibilitas perdagangan menjadi semakin penting untuk memperkuat transparansi dan kepastian dalam aktivitas perdagangan.
“Visibilitas yang tinggi merupakan hal yang relevan dan pivotal karena dapat memperkuat transparansi, objektivitas, dan kepastian dalam hal kuantitas, lokasi tujuan, perpajakan, dan aspek lainnya,” kata Eddy dalam keterangannya, Selasa (1/9/2026).
Integrasi data ekspor hingga tingkat transaksi yang mulai dibangun PT Danantara Sumberdaya Indonesia (Persero) atau DSI dinilai berpotensi memperkuat kemampuan dalam memahami alur perdagangan sekaligus mengoptimalkan nilai ekonomi komoditas strategis Indonesia.
Visibilitas transaksi tersebut tidak hanya mencakup nilai dan volume ekspor. Informasi yang terintegrasi juga mencakup kualitas komoditas, harga, klasifikasi produk, lokasi pengiriman, negara tujuan hingga penerimaan devisa.
Menurut Eddy, integrasi data tersebut dapat menjadi dasar untuk memahami struktur perdagangan secara lebih menyeluruh sekaligus menyusun strategi yang lebih tepat.
Visibilitas Data Tak Otomatis Dongkrak Ekspor
Meski demikian, Eddy mengingatkan bahwa peningkatan visibilitas data belum secara otomatis meningkatkan kinerja ekspor Indonesia.
Menurutnya, penguatan perdagangan komoditas membutuhkan pembagian peran yang jelas antara pihak yang membangun sistem dan pelaku usaha.
DSI dapat menjalankan peran strategis melalui integrasi data dan penguatan visibilitas perdagangan. Sementara itu, implementasi pada tingkat bisnis membutuhkan partisipasi aktif perusahaan eksportir untuk meningkatkan daya saing dan mengoptimalkan peluang perdagangan.
Sebelumnya, Direktur Utama DSI Luke Mahony mengatakan fokus perusahaan saat ini adalah membangun sistem dan kapabilitas agar dapat menjalankan mandat secara kredibel, terukur dan berkelanjutan.
“Sejak mulai beroperasi, kami telah mengembangkan visibilitas terhadap ribuan transaksi ekspor serta fondasi analitis yang diperlukan untuk mendukung mandat DSI,” ujar Luke dalam keterangan resminya, Senin (24/8/2026).
DSI Pantau 6.500 Deklarasi Ekspor
Sejak mulai beroperasi pada 1 Juni 2026, DSI telah membangun visibilitas analitis atas sekitar 6.500 deklarasi ekspor dengan nilai lebih dari US$14 miliar dan volume melampaui 90 juta ton komoditas.
Transaksi tersebut bergerak melalui lebih dari 50 pelabuhan muat yang tersebar di 25 provinsi menuju lebih dari 100 negara tujuan.
Dalam prosesnya, DSI mengintegrasikan data ekspor nasional dengan referensi pasar global. Integrasi tersebut menghubungkan informasi mengenai harga, volume, kualitas, klasifikasi Harmonized System (HS), kapal pengangkut hingga pasar tujuan.
Dengan sistem tersebut, negara diharapkan dapat memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai alur perdagangan serta nilai komoditas sepanjang rantai ekspor.
Analisis awal yang dilakukan DSI bersama sejumlah badan usaha milik negara juga mengidentifikasi potensi optimalisasi nilai sekitar US$5 miliar per tahun.
Potensi tersebut menunjukkan bahwa penguatan visibilitas data tidak hanya berkaitan dengan transparansi perdagangan, tetapi juga dapat menjadi instrumen untuk meningkatkan nilai ekonomi komoditas strategis dan memperkuat daya saing ekspor Indonesia.
SUMBER: BISNIS INDONESIA











