Deflasi Kepri Jadi Sinyal Positif, ISEI: Harga Komoditas Masih Stabil

IDNNEWS.CO.ID, BATAM – Kondisi deflasi yang terjadi di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) dinilai menjadi sinyal positif terhadap stabilitas harga dan kondisi pasar, terutama karena tidak terjadi lonjakan permintaan yang signifikan sepanjang Juli 2026.

Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Batam, Dr. Suyono Saputra saat ditemui KE Group pada Senin (10/8/2026) pagi mengatakan bahwa, deflasi perlu dilihat dalam konteks kondisi pasar dan pergerakan harga komoditas secara keseluruhan.

Menurut dia, kondisi pasar di Kepri selama Juli relatif stabil karena tidak terdapat momentum yang biasanya mendorong peningkatan permintaan, seperti Ramadan, Idulfitri maupun periode akhir tahun.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA:  Momen Pilkada, Pl Gubernur Kepri Marlin Ingatkan ASN untuk Menjaga Netralitas

“Secara umum kondisi pasar lebih stabil. Selama Juli tidak ada lonjakan permintaan yang signifikan karena memang tidak ada momentum yang biasanya mendorong permintaan,” kata Suyono.

Ia menilai kondisi tersebut turut membuat harga berbagai komoditas cenderung terkendali. Stabilitas harga tersebut menjadi salah satu faktor yang menopang kondisi perekonomian daerah.

“Tidak ada lonjakan permintaan yang terlalu signifikan sehingga harga cenderung stabil. Ini sebenarnya positif dan menjadi salah satu yang menopang pertumbuhan ekonomi kita,” ujarnya.

Meski demikian, Suyono mengingatkan pemerintah daerah dan pemangku kepentingan terkait tetap perlu menjaga kesinambungan pasokan, khususnya komoditas bahan pokok yang sebagian besar masih didatangkan dari luar Kepri.

Menurutnya, ketergantungan terhadap pasokan dari daerah sentra produksi membuat sejumlah wilayah di Kepri cukup rentan terhadap gejolak harga.

BACA JUGA:  Dari Rempang untuk Bumi, Aksi Bersih dan Tanam 5.000 Pohon di Hari Bumi

“Yang harus kita jaga adalah pasokan komoditas, terutama bahan pokok, agar tetap stabil sehingga tidak terjadi lonjakan harga yang terlalu tinggi ketika permintaan meningkat,” katanya.

Ia mencontohkan cabai merah yang selama ini menjadi salah satu komoditas yang kerap memberikan tekanan terhadap inflasi. Kelancaran pasokan dari daerah sentra produksi menjadi faktor penting untuk menjaga stabilitas harga di Kepri.

“Cabai merah selama ini selalu menjadi komoditas yang menopang inflasi. Ini yang harus kita jaga, terutama di beberapa wilayah yang rentan seperti Batam, Tanjung Pinang, dan Karimun,” ujar Suyono.

Suyono menambahkan, secara tahunan atau year on year (yoy), perkembangan harga di Kepri masih berada dalam kondisi yang relatif terjaga, dengan kisaran inflasi sekitar 3–4 persen.

BACA JUGA:  OJK Kepri Ingatkan Masyarakat Batam Waspada Pinjol Ilegal dan Investasi Bodong Lewat Seminar Literasi Keuangan Digital

“Secara umum masih terjaga. Kalau kita melihat secara year on year, masih berada di angka 3–4 persen. Jadi, secara umum baik di Batam, Tanjung Pinang maupun Kepri secara keseluruhan masih terjaga,” katanya.

Ia pun menilai langkah pemerintah daerah bersama berbagai instansi terkait dalam menjaga pasokan dan stabilitas harga telah menunjukkan hasil positif.

“Sudah bisa kita katakan berhasil,” kata Suyono.

Ke depan, ia berharap stabilitas pasokan bahan pokok dapat terus dipertahankan sehingga tekanan harga dapat diminimalkan, terutama ketika memasuki periode dengan potensi peningkatan permintaan.

Dengan demikian, deflasi tidak hanya dipandang sebagai penurunan harga, tetapi juga perlu dibaca bersama dengan faktor daya beli, permintaan masyarakat, kelancaran distribusi, serta ketersediaan pasokan komoditas di pasar.(Iman Suryanto)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *