IDNNEWS.CO.ID, ANAMBAS – Di tengah semangat anak-anak desa mengejar mimpi, SDN 002 Desa Impol justru berdiri dengan wajah yang menyimpan banyak cerita. Di balik deretan bangunan sederhana itu, ada kegelisahan yang perlahan mengemuka—tentang ruang belajar yang tak lagi ramah, fasilitas yang kian rapuh, dan harapan yang menunggu uluran perhatian.
Langkah kaki siswa setiap pagi masih sama: berlarian memasuki halaman sekolah, membawa tas dan cita-cita. Namun, tidak semua sudut sekolah mampu menyambut mereka dengan kondisi yang layak. Sejumlah fasilitas penting seperti perpustakaan, kantin, hingga rumah guru kini berada dalam kondisi memprihatinkan.
Perpustakaan sekolah yang seharusnya menjadi jendela dunia bagi siswa kini nyaris tak berfungsi. Bangunan yang mengalami kerusakan membuat ruang tersebut tidak dapat dimanfaatkan secara optimal. Rak buku yang semestinya menjadi saksi lahirnya mimpi-mimpi besar anak desa kini tak lagi menjadi tempat yang nyaman untuk belajar.
Padahal, di sekolah-sekolah terpencil, perpustakaan sering menjadi satu-satunya ruang bagi siswa mengenal dunia di luar kampung halaman mereka. Ketika ruang itu tak lagi layak, kesempatan untuk menumbuhkan minat baca pun ikut tergerus.
Kantin sekolah—tempat sederhana yang biasanya riuh oleh canda dan tawa—juga mengalami kerusakan cukup parah. Kondisi bangunan yang tidak layak menimbulkan kekhawatiran akan kebersihan dan kesehatan lingkungan sekolah.
Bagi sebagian siswa, kantin bukan hanya tempat membeli makanan, tetapi juga ruang berbagi cerita saat waktu istirahat. Kini, ruang kebersamaan itu justru menyimpan kekhawatiran baru.










